Ini Klarifikasi Resmi BPJS soal Isu Haram dari MUI

Ini Klarifikasi Resmi BPJS soal Isu Haram dari MUI

Saat ini di masyarakat sedang diramaikan dengan polemik seputar haramnya sistem BPJS (Badan Penjamin Jaminan Sosial). Salah satu alasannya adalah adanya unsur gharar (ketidakjelasan), maysir (judi) dan riba. Lalu bagaimana tanggapan BPJS mengenai isu yang berkembang? Berikut ini adalah klarifikasi yang diberikan oleh BPJS melalui situs resminya:

INFO PENTING. Sehubungan dengan beredarnya informasi di media, bahwa  MUI mengharamkan BPJS Kesehatan (BPJSK) haram, maka agar umat menjadi tenang, BPJS Kesehatan bersama DJSN (Dewan Jaminan Sosial Nasional) akan audiensi ke MUI.

Sebagai catatan awal, info yang beredar di media masih simpang siur. Yang pasti sepanjang yang BPJS Kesehatan  ketahui,  belum ada fatwa MUI yg menyatakan bahwa BPJSK haram. Yang ada adalah rekomendasi hasil ijtima ulama Komisi Fatwa. Sifatnya rekomendasi, terkait panduan jaminan kesehatan nasional dan BPJS Kesehatan.

Isi rekomendasinya ada 2:
1. Agar pemerintah membuat standar minimum atau taraf hidup layak dalam kerangka jaminan kesehatan yang berlaku bagi setiap penduduk negeri sebagai wujud pelayanan publik sebagai modal dasar bagi terciptanya suasana kondusif di masyarakat tanpa melihat latar belakangnya;
2. Agar pemerintah membentuk aturan, sistem, dan memformat modus operandi BPJS Kesehatan agar sesuai dengan prinsip syariah.

Kesimpulan: secara tekstual, belum ada fatwa dari MUI. Yang beredar saat ini di media adalah, hasil rekomendasi keputusan rapat/ijtima’ ulama Komisi Fatwa se Indonesia V tahun 2015, yang juga tidak menyebutkan bahwa BPJS Kesehatan adalah haram. Namun untuk jelasnya, segera akan adakan audiensi/tabayyun ke MUI. Baru segera setelah itu, BPJS Kesehatan akan menjelaskan lebih lanjut ke masyarakat.

Baca juga: Apa Beda BPJS, JKN, dan Kartu Indonesia Sehat?


Categories: Berita Kesehatan, BPJS
Tags: bpjs, bpjs haram

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.