Lagi, Penelitian Terbaru Membuktikan Vaksin MMR Tidak Menyebabkan Autisme

Lagi, Penelitian Terbaru Membuktikan Vaksin MMR Tidak  Menyebabkan Autisme

Isu yang menyebutkan bahwa vaksin MMR (Mumps, Measles and Rubella) memicu autisme mungkin sudah lama kita dengar. Sebagian percaya hal ini benar adanya dan sebagian lagi tidak dan menyisakan polemik diantara para orang tua.

Lalu kira-kira bagaimana bukti ilmiah menjelaskan hal ini?

Penelitian selama 15 tahun membuktikan bahwa tidak ada kaitan antara pemberian vaksin MMR dengan kejadian Autisme Spectrum Disorder (ASD). Bahkan Dr. Andrew Wakefield  yang pertama kali mempublikasikan isu ini terbukti melakukan pemalsuan hasil penelitian dan dicabut izin praktiknya sebagai dokter di Inggris.

Meskipun telah didukung bukti ilmiah yang valid, namun kenyataannnya para orang tua masih saja dibayangi ketakutan. Survei yang dilakukan kepada orang tua yang anaknya mengidap autisme di Amerika menunjukkan bahwa banyak orang tua yang percaya bahwa pemberian vaksin MMR ikut berkontribusi terhadap munculnya gejala autisme pada anaknya. Hal ini menyebabkan sebagian orang tua ketakutan untuk memberikan vaksin MMR untuk sang adik. Padahal, vaksinasi ini penting untuk mencegah timbulnya penyakit gondong (mumps),  campak (measles), dan rubella.

Guna menjawab kekhawatiran yang masih berembus, dr.Anjali Jain bersama tim kemudian melakukan sebuah penelitian baru untuk melihat bagaimana hubungan pemberian vaksin MMR terhadap kejadian autisme dalam satu keluarga.

Penelitian ini melibatkan 95727 anak di Amerika Serikat. Para peneliti ingin memeriksa berapa angka kejadian autism pada anak yang sudah mendapatkan suntikan vaksin MMR. Kelompok penelitian dibagi dua, bergantung ada tidaknya saudara kandung yang mengalami autisme. Analisis data menunjukkan bahwa penerima vaksin MMR tidak menunjukkan peningkatan risiko autisme pada semua tingkat umur walaupun didapatkan faktor risiko genetik (saudara kandung memiliki autisme).

Penelitian ini juga membuktikan bahwa pemberian vaksin MMR baik satu kali atau dua kali tidak berhubungan dengan peningkatan risiko anak menjadi autis.

Kesemua temuan ini dipublikasikan dipublikasikan 21 April 2015 dalam Journal of the American Medical Association  (JAMA).

Dalam sebuah editorial yang dimuat pada jurnal yang sama, Dr. Bryan H. King dari University of Washington mengatakan bahwa penelitian ini menegaskan fakta yang sudah ditemukan pada penelitian sebelumnya. Fakta itu antara lain:

  1. Tidak ada perbedaan waktu munculnya (onset) gejala autisme antara anak yang di vaksinasi dengan yang tidak
  2. Tingkat keparahan autisme antara anak yang di vaksinasi dan yang tidak juga tidak menunjukkan perbedaan

Dengan banyaknya bukti ilmiah yang menujukkan bahawa vaksin MMR tidak memicu autisme, diharapkan para orang tua tidak ragu lagi untuk melengkapi vaksinasi putra-putrinya. Ketakutan melakukan vaksinasi MMR telah memicu merebaknya wabah campak di Amerika pada akhir 2014 ini. Semoga hal ini tidak perlu terjadi di Indonesia!

Sumber: www.sciencedaily.com

Baca juga:

FAQ Imunisasi

Mengenal Autisme

Bagaimana campak menyebabkan kematian?

 

 


Categories: Berita Kesehatan

Comments

comments