Mengapa Kaum Homoseksual Lebih Rentan Terkena HIV/AIDS?

Mengapa Kaum Homoseksual Lebih Rentan Terkena HIV/AIDS?

Kaum homoseksual memang memiliki hubungan erat dengan HIV/AIDS.  Awal berkembangnya HIV/AIDS menjadi pandemi  diduga diawali oleh penyebaran HIV/AIDS pada kelompok gay di Amerika Serikat.   Virus ini diduga semakin menyebar akibat perilaku gonta-ganti pasangan yang dilakukan oleh seorang pramugara tampan yang gay dengan mobilitas yang sangat tinggi.

(Baca selengkapnya di: Perilaku homoseksual, awal mula tersebarnya penyakita HIV/AIDS di dunia?)

Menurut UNAIDS, HIV lebih sering ditemukan diantara pria gay dan biseksual dibandingkan orang dewasa normal pada umumnya. Di Amerika Utara, diperkirakan 15% dari pria gay dan biseksual telah terjangkit AIDS. Sementara presentasi tertinggi adalah di negara Karibia, yaitu hampir 25% pria gay dan biseksual telah terjangkit AIDS.

Menurut Elizabeth Bozkey Ph.D, sebagaimana di lansir dari  laman about.std.com, berikut ini adalah alasan mengapa pria homoseksual lebih rentan mengalami HIV/AIDS di bandingkan pria normal:

1. Hubungan seksual lewat anal memungkinkan transmisi HIV dari orang yang terinfeksi sebanyak 18x lebih tinggi dibandingkan dengan hubungan seks pervaginam. Dalam setiap kali berhubungan seks anal tanpa pengaman, seseorang mengalami peningkatan risiko sebanyak 1.4%

2. Pria homoseksual yang berperan sebagaimana wanita dalam hubungan seks memiliki risiko lebih tinggi untuk mendapat infeksi HIV. Sementara saat ia berperan sebagaimana laki-laki, ia memiliki peluang lebih besar dalam menularkan infeksi HIV. Dengan dua peran yang bisa dilakukan oleh pria homoseksual ini, semakin memperbesar peluang tersebarnya HIV diantara kelompok tersebut

3. Stigma yang diterima oleh kaum homoseksual membuat sebagian dari kelompok ini enggan berobat dan mendapatkan akses ke fasilitas kesehatan. Akibatnya akan terjadi keterlambatan diagnosis dan pemberian pengobatan. Padahal pengobatan dengan obat antiretroviral (ARV) merupakan faktor penting pencegahan penularan. Karena dengan level virus tidak terdeteksi, penularan akan menurun drastis.


Categories: Berita Kesehatan

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.