Perilaku Homoseksual, Awal Mula Tersebarnya Penyakit HIV/AIDS di Dunia?

Perilaku Homoseksual, Awal Mula Tersebarnya Penyakit HIV/AIDS di Dunia?

Jika ada penyakit yang paling ditakuti saat ini, salah satunya mungkin adalah HIV/AIDS. HIV atau Human Immunodeficiency Virus merupakan virus yang diduga berasal dari simpanse. Virus ini pertama kali mulai berpindah ke  manusia karena praktik memakan daging kera oleh suku pedalaman Afrika. Dahulu, virus mematikan ini hanya ditemui pada hewan, kemudian menginfeksi manusia, dan akhirnya tersebar ke masyarakat, termasuk di lingkungan sekitar kita

Bagaimana virus ini mulai menyebar ke masyarakat merupakan bahasan menarik dalam dunia public health. Mengetahui bagaimana proses penyebaran penyakit merupakan langkah awal dalam melakukan pencegahan. Jika kita menilik sejarah, salah satu hipotesis yang dibahas mengenai bagaimana penyakit ini mulai menyebar adalah karena perilaku hubungan sesama jenis homoseksual.

HIV/AIDS mulai dikenali sebagai suatu penyakit saat merebaknya penyakit radang paru yang tidak umum ditemukan pada komunitas gay di Amerika di awal tahun 1980-an. Radang paru (pneumonia) ini ternyata disebabkan oleh jamur Pneumocystis jirovecii. Jenis infeksi yang sebelumnya hanya ditemukan pada pasien yang immunocomprimised (memiliki gangguan kekebalan tubuh). Sejak itu sejumlah penelitian intensif dilakukan untuk mengidentifikasi sumber penyakit sebenarnya dan bagaimana penularannya.

Salah satu jenis investigasi yang dilakukan oleh Badan Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Amerika (Centers for Disease Control and Prevention) adalah untuk mengidentifikasi apakah penyakit ini ditularkan secara seksual. Terutama pada saat itu, di kalangan homoseksual berkulit hitam.

Sekelompok gay yang mengalami gejala yang termasuk dalam sindrom AIDS dikumpulkan. Mereka diminta untuk mendaftar semua pasangan seksualnya. Menariknya, saat menelusuri daftar teman kencan mereka, para peneliti menemukan satu nama yang sering berulang dan diduga berperan besar dalam proses penularan. Siapakah dia?

Gaetan Dugas

Gaetan Dugas

Pria tersebut adalah Gaetan Dugas, seorang pramugara di maskapai Air Canada. Dengan fasilitas dari maskapai, Dugas sering bepergian menemui teman kencannya dan mengikuti pesta perkumpulan gay mingguan di berbagai kota di Amerika. Pun begitu, Dugas paling sering berdiam di kota San Fransisco. Dugas sangat aktif secara seksual dan mengklaim memiliki partner seksual sebanyak 250 orang dalam setahun. Ia mulai aktif secara seksual pada tahun 1972,  diperkirakan ia telah memiliki 2500 pasangan kencan. Dengan ketampanan, kepribadian menarik dan kemampuan dalam merayu, tidak heran Dugas menjadi primadona diantara kaumnya.

Petualangan Dugas  berkencan tetap ia lakukan walaupun ia tahu bahwa dirinya sedang sakit dan mungkin menularkan penyakit. Dokter telah memperingatkan hal ini dengan keras, namun  Dugas tetap tidak bergeming. Hal ini menyebabkan sebagian orang menuduh dirinya sebagai “orang jahat”.

Selama bertahun-tahun identitas Gaetan Dugas masih disamarkan dan hanya dikenal dengan nama “Patient Zero”. Istilah ini mulai dikenal pada tahun 1984 lewat sebuah paper yang diterbitkan pada American Journal of Medicine yang memaparkan bahwa awal terjadinya infeksi HIV di New York City berhubungan dengan “seorang pramugara gay tanpa nama”.

Laporan lebih lengkap mengungkap bahwa pria tersebut selain berhubungan dengan 22 kasus awal HIV di New York City juga berhubungan dengan 9 kasus pertama dari 19 kasus HIV di Los Angeles, dan 9 kasus lainnya di 8 negara bagian Amerika lainnya.

Kluster yang menggabambarkan bagaimana HIV menyebar oleh "Patient Zero"

Kluster yang menggabambarkan bagaimana HIV menyebar oleh “Patient Zero”

Perjalanan Dugas dan merebaknya penyakit HIV/AIDS dikalangan kaum gay di Amerika di tahun 1980-an ini dirangkum oleh seorang wartawan investigasi bernama Randy Silth dalam bukunya yang berjudul “And The Band Play On” .  Halaman depan buku ini dimulai dengan narasi yang menggambarkan besarnya masalah: “Di awal tahun 1980-an, 14 orang pria gay menyewa sebuah villa di Pantai Fire Island dekat Manhattan. Dua diantara pria tersebut diketahui pernah berhubungan seksual dengan Gaetan Dugas. Saat ini 10 dari 14 pria tadi mati karena AIDS”. Randy Silth sendiri adalah seorang gay, dan akhirnya meninggal karena AIDS.

(Baca juga: Mengapa kaum homoseksual lebih rentan terkena HIV/AIDS?)

Tidak semua orang setuju dengan hipotesis  dan cerita ini.  Mereka menyatakan bahwa sekalipun bukan Dugas, akan ada orang lain yang berperan untuk menyebarkan infeksi virus HIV. Selain itu, mengkambinghitamkan seseorang dalam proses penyebaran penyakit dianggap bukan tindakan bijak.

Selain itu, sebuah artikel pada Proceedings of the National Academy of Sciences menggugurkan hipotesis  “Patient Zero” ini.  Artikel tersebut menyatakan bahwa HIV disebarkan dari Afrika ke Haiti pada tahun 1966 dan dari Haiti ke Amerika Serikat pada tahun 1969. Klarifikasi ini utamanya mematahkan asumsi sebagian ahli kesehatan masyarakat yang menduga Gaetan Dugas lah yang membawa virus ini masuk ke Amerika lewat aktivitasnya sebagai pramugara.

Terlepas dari pro-kontra yang ada mengenai benarkah awal mula tersebarnya HIV/AIDS disebabkan oleh perilaku seksual homoseksual, kita tidak bisa menampik bahwa fenomena tersebut memang benar adanya.

Menurut UNAIDS, HIV lebih sering ditemukan diantara pria gay dan biseksual dibandingkan orang dewasa pada umumnya, bahkan di Afrika. Di Amerika Utara, diperkirakan 15% dari pria gay dan biseksual telah terjangkit AIDS. Sementara di Karibia,  hampir 25% pria gay dan biseksual telah terjangkit AIDS.

Menerima hubungan seksual lewat anal memang lebih beresiko, baik jika anda perempuan ataupun laki-laki.  Risiko yang ditimbukan adalah 1.4% pada setiap kali berhubungan dengan seseorang yang terinfeksi atau 18 kali lebih beresiko dibandingkan hubungan seksual normal antara pria dan wanita. Penelitian ini di publikasikan di jurnal The Lancet edisi 20 Juli 2012.

(Baca juga: Kenalkan Timothy Brown, Pasien Pertama yang Sembuh dari HIV)


Categories: Berita Kesehatan

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.