Tidur Kurang dari 6 Jam Terbukti Bikin Kita Mudah Terserang Flu

Tidur Kurang dari 6 Jam Terbukti Bikin Kita Mudah Terserang Flu

Terserang flu, bisa jadi memang sudah ada didalam suratan takdir setiap kita. Entah hanya sekali dalam setahun, atau justru berkali-kali. Berapapun frekuensinya, namun yang pasti, semua setuju bahwa terserang flu rasanya sangat tidak enak.

Kepala terasa pusing, hidung tersumbat, bernafas sulit, bahkan kadang disertai oleh batuk yang mengganggu. Tidak hanya sampai disitu, beraktivitas juga terasa sulit karena sekujur badan terasa pegal.

Jikapun berkonsultasi dengan dokter, dokter akan menanyakan pertanyaan yang hampir sama. “Kecapekan ya? Kurang istirahat?” Ternyata hal ini memang benar adanya. Para peneliti dari menemukan fakta bahwa kurang istirahat, dalam hal ini kurang tidur bisa meningkatkan risiko seseorang terserang flu.  Hasil penelitian ini dimuat dalam jurnal Sleep edisi September 2015 ini.

Para peneliti  melakukan pengamatan terhadap 164 orang sehat. Responden  diberikan gelang pelacak untuk mencatat kebiasaan tidur mereka. Kemudian setelah seminggu, para responden diberikan obat tetes hidung yang mengandung rhinovirus (virus paling sering menyebabkan flu). Setelahnya, para responden di karantina di dalam hotel dan diamati apakah mereka mengalami gejala flu.

Setelah lima hari, kira-kira hampir sepertiga (29%) peserta penelitian menunjukkan gejala sakit flu berupa hidung meler.

Setelah dilakukan analisis diketahui bahwa peserta yang dalam satu minggu tidur kurang dari  6 jam setiap malamnya empat kali lebih rentan terkena sakit flu setelah terpajan dengan virus flu, jika dibandingkan dengan responden yang tidur selama 7 jam dalam sehari.

Kurang Tidur Memperbesar Risiko  Terserang Flu

Para peneliti menyebutkan bahwa ini adalah penelitian pertama yang berhasil secara objektif untuk membuktikan bahwa kualitas tidur ikut menentukan apakah seseorang mudah terserang flu atau tidak. Karena pada penelitian sebelumnya, durasi tidur diperoleh melalui kuisioner, dan bukan pengamatan langsung sebagaimana yang dilakukan dalam penelitian ini.  Penelitian ini juga menunjukkan bagaimana tidur merupakan komponen yang penting untuk menjaga kesehatan kita.

Salah satu peneliti Aric Prather menjelaskan bagaimana durasi tidur yang sempit merupakan prediktor yang baik untuk memperkirakan apakah seseorang mungkin terkena flu atau tidak. Tidak peduli seberapa tua anda, seberapa stress anda, ras, pendidikan serta  jumlah penghasilan yang dimiliki. Bahkan apakah anda merokok atau tidak, jumlah durasi tidur yang kurang masih merupakan prediktor yang penting untuk mengetahui apakah anda mudah terkena flu atau tidak.

Para peneliti menduga, jumlah tidur yang kurang ikut mempengaruhi sistem imun. Meskipun begitu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memastikan bagaimana mekanisme sebenarnya yang terjadi.

Selain itu, penelitian lebih lanjut juga diperlukan untuk mengetahui apakah durasi tidur yang lebih lama akan membuat seseorang lebih resisten dari serangan flu.

Dalam komentarnya para peneliti menyampaikan bahwa  di masa yang sangat sibuk ini, kebanyakan orang malah lebih bangga dengan jumlah tidur yang sedikit. Waktu tidur dipangkas demi menyelesaikan pekerjaan yang banyak. Mereka percaya penelitian semacam ini diperlukan untuk membuktikan bahwa tidur merupakan komponen yang penting untuk kesehatan kita dan tidak boleh diremehkan.


Categories: Berita Kesehatan

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.