Kerja Overtime Berhubungan Dengan Peningkatan Risiko Stroke

Kerja Overtime Berhubungan Dengan Peningkatan Risiko Stroke

 

Para peneliti di North Shore University Hospital New York melakukan pengamatan terhadap 600.000 pria dan wanita yang sebelumnya teregister pada 25 penelitian lain. Responden dikumpulkan dari Amerika Serikat, Eropa dan Australia. Selama 8.5 tahun para responden diamati kondisi kesehatannya. Dari pengamatan diketahui bahwa responden yang menghabiskan waktu 55 jam seminggu 13 % lebih mungkin untuk mengalami sakit jantung dibandingkan dengan responden yang menghabiskan waktu kerja biasa selama 35-40 jam seminggu.

Analisis kedua yang dilakukan para peneliti terhadap 529.000 respondeng yang diikut selama 7 tahun menemukan bahwa responden yang bekerja 55 jam atau lebih dalam seminggu sepertiga kali lebih mungkin untuk menderita stroke dibandingkan dengan responden yang bekerja 35-40 jam seminggu.

Analisis lanjutan ini juga menemukan bahwa semakin panjang seseorang bekerja, semakin tinggi risiko stroke yang mungkin dialami. Dibandingkan dengan seseorang yang bekerja sesuai dengan jam kerja standar, risiko stroke 10% lebih tinggi pada orang yang bekerja 41-48 jam dan 27% lebih tinggi pada seseorang yang bekerja 49-54 jam.

Bagaimana bisa jam kerja yang panjang mempengaruhi kesehatan kita? Beberapa faktor yang oleh peneliti diduga berpengaruh pada kesehatan antara lain adalah karena gaya hidup kurang gerak, tingginya tingkat stress dan kebiasaan minum alkohol. Selain itu, banyak pekerja dengan jam kerja yang panjang juga mengalami kesulitan untuk datang ke dokter untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.

Meskipun jam kerja yang terlalu panjang berhubungan dengan penurunan kualitas kesehatan, seseorang tidak bisa secara serta merta memotong jam kerjanya. Para peneliti pun menganjurkan untuk memastikan bahwa beberapa  hal yang disebutkan berhubungan dengan penurunan kualitas kesehatan tidak terjadi,  terutama mengenai kurangnya aktivitas fisik yang dilakukan oleh pekerja kantoran. Para peneliti menegaskan bahwa aktivitas fisik merupakan hal yang penting untuk mencegah penyakit dan memperlambat proses penuaan.

Dr. Stephan Mayer, salah satu dokter di New York menyatakan cukup terkejut mengenai hasil penelitian ini. Risiko yang ditimbulkan ternyata sama buruknya dengan risiko stroke yang ditimbulkan oleh kebiasaan merokok, yaitu hampir sebesar 50%. Dr. Mayer menyatakan, meskipun belum jelas bagaimana mekanismenya, salah satu kemungkinan yang menyebabkan peningkatan risiko stroke ini adalah karena proses stress kronik yang diakibatkan oleh jam kerja yang panjang, serta waktu yang kurang untuk beristirahat dan berkumpul bersama keluarga.

Para peneliti menekankan bahwa hasil penelitian ini membuktikan bagaimana kita secara pribada harus memperhatikan secara sadar menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, agar kesehatan diri tidak berada dalam ancaman. Nah, bagaimana dengan anda? Sudahkah menyeimbangkan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi?


Categories: Recognize rosiaris

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.