Benarkah Tidur Lebih dari 8 Jam Memicu Stroke?

Benarkah Tidur Lebih dari 8 Jam Memicu Stroke?

Apa kata penelitian?

Lansia yang tidur lebih dari 8 jam sehari memiliki risiko 46%  lebih besar terkena stroke pada periode kehidupan 10 tahun berikutnya.

Temuan ini didasarkan oleh penelitian yang di muat Jurnal Neurology 25 Februari 2015 yang lalu. Penelitian ini melibatkan responden berusia lanjut, rata-rata berusia 62 tahun (40-75 tahun), dimana responden-responden ini diikuti selama 10 tahun untuk melihat pola tidur dan angka kejadian stroke. Ditemukan 346 responden yang mengalami episode stroke dari 9692 responden yang diteliti. Setelah melakukan kontrol terhadap faktor lain yang mungkin menjadi perancu, para peneliti berkesimpulan bahwa pada responden dengan durasi tidur yang lama (>8 jam) memiliki risiko lebih besar terkena stroke dibanding responden dengan jumlah tidur normal (6-8 jam).

Bagaimana dengan orang yang tidur lebih sedikit?

Penelitian ini menyebutkan bahwa orang dengan jumlah tidur yang sedikit (<6 jam) juga menunjukkan trend peningkatan risiko terkena stroke, terutama stroke iskemik, yaitu stroke karena adanya sumbatan  pada pembuluh darah. Ditemukan peningkatan risiko sebesar 18% jika dibandingkan dengan populasi rata-rata, namun perbedaan ini cukup kecil, sehingga dapat terjadi secara kebetulan.

Bukan hubungan sebab akibat

Beberapa portal berita di tanah air ramai membicarakan hasil temuan ini. Diantaranya menyatakan “tidur lebih dari 8 jam memicu stroke” , penyataan ini kurang tepat karena tidak ditemukan hubungan sebab akibat yang jelas antara durasi tidur dengan kejadian stroke.

Benarkah pernyataan “tidur lebih dari 8 jam memicu stroke?”

Jawabannya adalah tidak.

Seperti  kebanyakan penelitian epidemiologi lainnya, penelitian ini hanya menunjukkan keterkaitan antara durasi  tidur dengan kejadian stroke. Namun tidak membuktikan hubungan sebab akibat.

Dr. Nathaniel Watson dari  American Academy of Sleep Medicine menyatakan bahwa durasi tidur yang memanjang (misalnya lebih dari 8 jam) mungkin merupakan tanda dari masalah lain yang lebih besar. Penelitian lain menyebutkan, jam tidur yang lama bisa berkaitan dengan masalah jantung sepeti atrial fibrilasi (gangguan irama jantung), aterosklerosis (sumbatan pembuluh darah) dan kondisi lain yang meningkatkan angka kejadian stroke.

Apakah memotong jumlah tidur menurunkan risiko stroke?

Jawabannya adalah belum terbukti.

Dr. Yue Leng salah satu penulis dalam jurnal ini menjelaskan, take home message dari temuannya bersama tim adalah bukan anjuran untuk tidur lebih sedikit. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  perubahan durasi tidur (terutama tidur yang lebih panjang) mungkin dapat menjadi penanda awal risiko stroke pada orang berusia lanjut.  Para dokter diharapkan lebih waspada apabila didapatkan perubahan pola tidur pada pasien lanjut usianya. Penelitian lebih lanjut untuk penggunaan parameter ini  dalam praktik klinis sehari-hari masih diperlu dilakukan.


Tags: stroke, tidur

Comments

comments