9 Tips Mengatasi Kolik Pada Bayi

9 Tips Mengatasi Kolik Pada Bayi

Salah satu “mimpi buruk” yang harus dihadapi oleh orang tua dengan bayi yang baru lahir adalah adanya serangan kolik yang di alami oleh bayi.

Serangan kolik bisa ditandai dengan  tangisan berulang pada jam-jam tertentu menjelang petang dan malam hari. Tangisan bayi biasanya sulit ditenangkan dengan usaha-usaha biasa, baik itu memberikan ASI, mengganti popok atau menimang bayi. Tak jarang kondisi ini membuat ibu atau pengasuh mengalami kebingungan dan mengalami frustasi.

Bayi yang mengalami kolik sebenarnya sedang merasa tidak nyaman pada saluran cernanya. Perasaan yang dialami bayi pada saat itu kurang lebih adalah kembung dan mulas. Bayi kolik seringkali disebut juga sebagai gassy baby.

(Baca juga: Mengenal Kolik Pada Bayi)

Berikut ini adalah sejumlah upaya yang bisa kita lakukan untuk membantu bayi meredakan serangan kolik yang sedang ia alami:

 

  1. Perhatikan keseimbangan foremilk dan hindmilk.

ASI ibu terdiri dari dua jenis, yaitu foremilk yang banyak mengandung laktosa dan hindmilk yang banyak mengandung lemak. Bayi yang kelebihan foremilk akan cenderung mengalami gangguan pencernaan karena tingginya kadar laktosa. Gangguan ini dapat berupa kembung, kolik dan diare. Jika bayi terlalu banyak mendapat foremilk dan sedikit hindmilk (yang kaya lemak), berat badan bayi juga akan sulit mengalami kenaikan. Keseimbangan kedua jenis ASI ini dapat diupayakan dengan menyusui bayi pada satu payudara hingga kosong. Hindari mengganti –ganti payudara sebelum benar-benar kosong (biasanya sekitar 20 menit). Jika memang produksi foremilk ibu terlalu banyak, ibu bisa mensiasatinya dengan memeras ASI terlebih dahulu sebelum bayi menetek langsung pada ibu.

  1. Perhatikan makanan ibu menyusui

Ibu yang menyusui sebaiknya menghindari produk susu, kafein, bawang merah, kol, kacang-kacangan, dan bahan makanan lain yang sering membuat kembung atau mengiritasi saluran cerna.

  1. Mengganti susu formula

Bayi yang mengkonsumsi  susu formula sebaiknya mengganti susunya menjadi susu yang mengandung whey hydrolysate, atau mengganti dengan susu yang hipoalergenik. Sejumlah penelitian menemukan bahwa penggantian ini bisa menurunkan jumlah episode dan durasi kolik pada beberapa bayi. Ibu bisa mencoba untuk mengganti susu selama seminggu dan melihat apakah memang susu formula yang kurang tepat lah yang menjadikan bayi mengalami gejala tersebut.

  1. Hindari overfeeding

Overfeeding atau memberikan ASI/ susu terlalu banyak biasanya terjadi karena ibu salah mengartikan tangisan bayi sebagai sinyal bahwa bayi merasa lapar. Seringkali bayi menangis dan ingin menetek karena mencari kenyamanan saja. Perhatikan, apabila bayi mulai gumoh atau hanya mengempeng ibu sebaiknya menghentikan proses menetek terlebih dahulu.

  1. Menggendong bayi

Cobalah menggendong bayi sambil berjalan-jalan menggunakan gendongan bagian depan. Bayi sebaiknya diposisikan dengan di dekap, dengan sedikit tekanan lembut pada perutnya.

  1. Stimulasi suara ritmik

Beberapa bayi dapat ditenangkan dengan stimulasi gerakan atau suara yang bersifat ritmik. Misalnya saja dengan menepuk-nepuk pelan atau dengan memperdengarkan suara air mengalir, suara vacuum cleaner, atau suara mesin cuci.

  1. Membedong bayi dengan kain yang nyaman

Bedong atau swaddling boleh dilakukan untuk memberikan rasa nyamann pada perut bayi. Bedong yang disarankan adalah membedong tidak terlalu ketat dan membiarkan tangan bayi bergerak bebas.

  1. Pijat bayi

Ibu bisa melakukan pijat bayi untuk menenangkan dan memberikan rasa nyaman pada bayi. Teknik memijat ini bisa dipelajari dari tenaga kesehatan ataupun mempelajarinya sendiri dari video youtube. Salah satu teknik yang paling sering disarankan adalah menggerakkan kaki bayi seperti sedang mengayuh sepeda. Terdapat teknik lain yang bisa dicoba, misalnya jenis pijatan “tiger in the trees” atau pijatan melawan jarum jam pada perut bayi.

  1. Istirahat yang cukup

Mendengarkan tangisan bayi yang tidak kunjung selesai memang  bisa menimbulkan rasa frustasi. Jika  rasa cemas, tegang dan takut ibu sudah mencapai puncaknya cobalah meminta bantuan orang lain untuk mengawasi bayi, dan beristirahat terlebih dahulu. Kondisi emosional antara ibu dan bayi diketahui juga bisa mempengaruhi tingkat keparahan dari kolik. Ibu  yang sabar dan tetap bersikap positif diperlukan untuk melewati kondisi ini. Tentu saja, dukungan dari pasangan maupun support system lainnya dibutuhkan untuk membantu ibu dan bayi melewati periode ini.

 


Categories: Kesehatan Anak

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.