Autisme Mungkin Dimulai Sejak Kehamilan

Autisme Mungkin Dimulai Sejak Kehamilan

Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh The New England Journal of Medicine menununjukkan bahwa autisme mungkin  telah berkembang sejak trisemester kedua kehamilan.

Penelitian yang di lakukan di Allen Institute for Brain Science dan University of California memeriksa jaringan otak 22 anak yang telah meninggal, dimana 11 diantara terdiagnosis autis. Para peneliti menemukan bahwa 10 dari 11 penderita menunjukkan tanda terhambatnya perkembangan neokorteks, bagian otak yang  mengatur komprehensi berpikir, logika dan bahasa.

Selama trisemester kedua kehamilan, korteks akan berkembang menjadi enam lapisan yang masing-masing terbentuk dari sel saraf yang berbeda. Namun, pada anak dengan autisme, para peneliti melihat adanya bagian yang hilang pada bagian tersebut. Selain itu, lapisan-lapisan tersebut nampak tidak beraturan, serta beberapa sel nampak hilang. Kebanyakan bercak ini terkonsentrasi pada daerah tempat dimana gangguan fungsi pada autisme ditemukan, seperti gangguan bahasa dan ketidakmampuan menangkap sinyal sosial.

Bagian yang dilingkari menunujukkan bagian yang terputus di otak.

Bagian yang dilingkari menunujukkan bagian yang terputus di otak.

 

 

Hal ini seperti memberikan pembenaran bahwa autisme merupakan gangguan neurobiologi yang terjadi pada fase kehidupan awal, kata Daniel Amen, seorang psikiater yang mendalami subjek ini.

Jika anda saaat ini sedang hamil, anda tidak perlu merasa was-was. Autisme merupakan hasil dari interaksi genetik dan lingkungan. Tidak banyak yang dapat dilakukan untuk mengubah kode genetik yang sudah kita bawa. Namun, ada sebuah konsep yang disebut dengan epigenetik, yang menyatakan bahwa perilaku kita akan menyalakan saklar on/off untuk beberapa gen tertentu yang menyebabkan penyakit lebih mungkin diwariskan kepada keturunan selanjutnya. Dengan melakukan kebiasaan sehat seperti makan makanan sehat, tidur yang cukup, dan menghindari pestisida serta zat kimia bahaya lainnya. Amen mengatakan bahwa kita mungkin menghindari gen-gen yang yang dapat menjadi predisposisi anak anda mengalami autisme.

Hingga saat ini, tidak ada pengobatan untuk autisme. Namun anak dengan autisme dapat mengalami perkembangan seiring bertambahnya usia. Intervensi dini dengan melakukan terapi wicara dan terapi perilaku dapat membantu. Dengan ditemukannya fakta bahwa lesi otak ditemukan hanya pada korteks dan tidak pada seluruh otak, para peneliti percaya bahwa bagian lain dari otak mampu mengambil alih bagian yang mengalami kelainan. Proses pengambilan alih tersebut dilakukan secara bertahap oleh tindakan intervensi yang dilakukan  selama terapi.


Categories: Kesehatan Anak
Tags: autis, autisme

Comments

comments