Baby Blues Syndrome, Mengapa Bisa Terjadi dan Apa yang Bisa Kita Lakukan Untuk Mencegahnya?

Baby Blues Syndrome, Mengapa Bisa Terjadi dan Apa yang Bisa Kita Lakukan Untuk Mencegahnya?

Mendapatkan anggota baru berupa seorang anak yang sehat dan lucu tentu terasa menyenangkan. Namun dilain sisi, kondisi ini justru  melelahkan. Bahkan pada awal kelahiran, tidak sedikit ibu baru yang merasa stress dan justru sedih. Perasan “biru” yang muncul setelah kelahiran anak dikenal dengan istilah Baby Blues Syndrome. Artis Hollywood terkenal Brooke Shields dikabarkan pernah mengalaminya. Bisa jadi anda, atau orang terdekat juga mengalaminya.

Kondisi ini seringkali diabaikan, dan dianggap hanya terjadi pada sedikit orang. Padahal diperkirakan, Baby Blues Syndrome mempengaruhi 50-80% ibu yang baru melahirkan. Gejala yang dialami bisa berupa mood swing, dengan beberapa kali merasa khawatir, mudah emosi, mudah menangis, dan diantara perasaan itu masih merasa baik-baik saja.  Kesulitan untuk tidur juga bisa terjadi.

Gejala biasanya muncul 3-4 hari setelah melahirkan dan memburuk pada hari ke 5-7. Biasanya ibu akan merasa membaik pada hari ke 12. Apabila gejala terus berlanjut hingga 2 minggu, itu artinya ibu telah mengalami kondisi yang disebut sebagai Post Partum Depression (PPD) dan memerlukan bantuan profesional agar dapat melaluinya.  Diperkirakan 1 dari 5 ibu yang mengalami baby blues akan berlanjut menjadi Post Partum Depression (PPD).

Sebenarnya apa yang melatari seorang ibu yang baru melahirkan bisa mengalami kondisi ini? Setidaknya dua hal, yaitu masalah hormonal dan emosional ikut berperan. Setelah melahirkan, kadar hormon progesteron dan estrogen menurun tajam.  Selain itu, hormon yang dihasilkan kelenjar tiroid juga akan menurun. Penurunan hormon ini akan membuat ibu merasa lemas, kurang bertenaga dan cenderung merasa sedih.

Selain itu perubahan yang terjadi di kehidupan baru sebagai ibu juga memberikan tantangan kepada ibu dan keluarga. Setiap ibu dengan latar belakang yang berbeda akan mengalami tantangan yang berbeda.  Berikut ini adalah masalah yang seringkali memperburuk gangguan emosional yang dipicu oleh perubahan hormon ibu yang baru melahirkan:

  1. Rasa tidak percaya diri untuk merawat bayi yang baru dipercayakan. Hal ini seringkali dirasakan oleh ibu muda yang baru memiliki anak pertama
  2. Rasa lelah dan nyeri yang masih terasa setelah melahirkan. Ibu yang melahirkan secara SC biasanya merasakan nyeri yang lebih lama pada bekas jahitan, dibandingkan ibu yang melahirkan secara normal.
  3. Belum bisa mengerti dan menenangkan bayi yang menangis. Seringkali ibu harus menebak-nebak apa yang dirasakan bayi, apakah ia lapar, merasa tidak nyaman, atau baru saja buang air. Ketika tidak satupun perkiraan ibu meredakan tangisan bayi, biasanya ibu menjadi frustasi dan bingung apalagi yang harus dilakukan. Mencoba mengenali arti tangisan bayi seperti yang dibahas pada artikel ini bisa membantu ibu mengerti apa yang bayi inginkan.
  4. Siklus hidup yang seolah “berantakan” karena harus terjaga dimalam hari, dan tetap waspada di siang hari.
  5. Rutinitas yang terasa membosankan karena harus terus menerus menyusui atau mengganti popok lagi dan lagi.
  6. Kesulitan saat memberikan ASI. Seringkali keluhan yang muncul adalah keluhan ASI belum keluar, payudara bengkak serta puting lecet karena bayi belum benar perlekatannya (latch on). Nyeri karena puting lecet ini bisa menjadi siksaan untuk ibu karena puting terasa seperti “diparut” setiap kali menyusui.
  7. Perbedaan pendapat dengan orang tua dan mertua mengenai tata cara mengurus bayi. Dengan derasnya arus informasi dan kesempatan berbagi, ibu muda masa kini bisa dikatakan lebih well informed dan cenderung mengambil keputusan berdasarkan sumber ilmiah. Sementara orangtua dan mertua cenderung berpegang pada pendapat yang telah dianggap berhasil secara turun temurun.
  8. Tidak memiliki “me time” karena sudah sibuk dengan bayi. Seringkali ibu karena terlalu fokus merawat buah hati, ibu lupa merawat diri sendiri.

Nah, dengan mengenali potensi stressor yang mungkin terjadi, ibu dan keluarga akan lebih bisa untuk mempersiapkan mental menghadapi perubahan yang terjadi setelah melahirkan. Selain itu, ibu juga bisa mempersiapkan diri dengan tips berikut ini untuk mencegah Baby Blues Syndrome:

  • Persiapan fisik yang matang (dana, perlengkapan bayi, kesehatan keluarga)
  • Mencari pengetahuan perawatan bayi baru (seminar awam, majalah, buku, forum)
  • Makan-makanan yang sehat dan menghindari makanan yang mengandung banyak lemak karena akan mempengaruhi hormon dan emosi menjadi tidak stabil
  • Berfikir positif
  • Me time juga diperlukan untuk ibu, seperti melakukan hobi atau sejenak beristirahat
  • Support keluarga terutama suami
  • Jangan segan untuk berbagi tugas mengasuh bayi bersama suami
  • Berbagi pengalaman bersama ibu lainnya juga akan mengurangi beban ibu


Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.