Kegemukan pada Anak: Anugerah atau Musibah?

Kegemukan pada Anak: Anugerah atau Musibah?

Orang tua mana yang tidak senang memiliki anak yang gemuk? Anak gemuk banyak mendapat pujian dari kerabat, yang secara tidak langsung membuat orang tuanya bangga. Ya, sudah merupakan budaya kita untuk mengidentikkan anak gemuk dengan anak yang sehat dan lucu. Namun, menjaga kesehatan anak tidak melulu soal berat badan. Walaupun berat badan berbanding lurus dengan asupan gizi, keadaan gizi berlebih dapat mendatangkan penyakit. Orang tua harus tetap waspada agar anak tidak kelebihan gizi.

Gizi diperlukan oleh tubuh sebagai sumber energi. Apabila energi yang digunakan tubuh lebih sedikit, maka energi yang tidak terpakai diubah menjadi cadangan energi dan disimpan dalam bentuk lemak. Semakin banyak lemak yang tertimbun, berat badan akan semakin naik. Lama-kelamaan, anak yang kelebihan gizi akan mengalami obesitas. Salah satu cara untuk mengetahui apakah anak mengalami obesitas atau tidak adalah dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT), yaitu membagi berat badan dalam satuan kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam satuan meter. Hasilnya diplot diatas kurva pertumbuhan khusus. Pada usia dewasa, Apabila nilai IMT diatas 30 kg/m2, maka dikategorikan sebagai obesitas. Apabila IMT jatuh pada rentang 25-29.9 kg/m2, maka dikategorikan sebagai berat badan berlebih. Anak dengan berat bedan berlebih perlu diberi perhatian khusus agar tidak sampai menjadi obesitas.

Angka obesitas dan berat badan berlebih pada anak menunjukkan tren yang meningkat dari waktu ke waktu. Di Amerika, jumlah anak dengan obesitas meningkat 4 kali lipat dalam 40 tahun terakhir. 11.6% anak di Amerika menderita obesitas, dan 16.3% nya memiliki berat bedan berlebih. Di Indonesia sendiri, angka anak dengan obesitas cukup tinggi. Terdapat 20-30% obesitas pada anak usia 4-6 tahun, dan 8.3% obesitas pada anak usia 5-15 tahun.

Banyak faktor yang dapat mendorong anak menjadi obesitas. Faktor yang paling berperan adalah lingkungan si anak, mulai dari lingkungan rumah hingga tempat dia beraktivitas. Lingkungan rumah berperan dalam menanamkan stigma bahwa anak sehat haruslah makan yang banyak. Anak gemuk kerap dijadikan panutan orang tua, sehingga anak didorong untuk terus menerus makan. Minimnya aktivitas fisik anak diluar rumah dan minimnya ruang terbuka untuk tempat bermain juga dapat mempercepat obesitas. Selain faktor lingkungan, obesitas juga “diturunkan” oleh orang tuanya. Ayah dan ibu dengan obesitas memiliki kemungkinan 70-80% anaknya juga mengalami obesitas. Obesitas juga bisa disebabkan oleh gangguan hormon dan efek samping obat-obatan tertentu, namun hal ini jarang ditemukan.

Obesitas pada anak merupakan faktor resiko berbagai penyakit, seperti DM (Diabetes Mellitus), gangguan liver, gangguan jantung, gangguan ginjal, dan peningkatan kolesterol dalam darah. Apabila tidak diberikan intervensi, obesitas pada anak akan menetap hingga dewasa. Penyakit-penyakit yang diakibatkan obesitas membutuhkan biaya pengobatan besar sehingga dapat menjadi beban ekonomi. Selain itu, obesitas juga berdampak pada kehidupan sosial. Anak dengan obesitas cenderung memiliki kepercayaan diri yang rendah.

Penanganan anak dengan obesitas tidaklah mudah. Perlu komitmen dan kedisiplinan anak maupun orang tua. Langkah pertama yang dapat dilakukan ada mengubah pola makan. Kurangi porsi makanan tinggi kalori, dan perbanyak makanan tinggi protein, karena bermanfaat bagi tumbuh kembang anak. Hindari kebiasaan anak membeli cemilan diluar rumah. Asupan buah dan sayur juga harus diperhatikan. Berdasarkan Pedoman Umum Gizi Seimbang, hendaknya mengonsumsi minimal 3 porsi buah dan sayur per hari. Aktivitas fisik juga perlu digalakkan. Sebaiknya aktivitas fisik dilakukan selama 30-60 menit, minimal 3 kali dalam seminggu, berupa aktivitas ringan-sedang, semacam Berjalan kaki dan bersepeda. Anak juga dapat dibimbing untuk memilih olahraga yang ia sukai.

Energi merupakan hal yang esensial dalam hidup. Energi diperlukan untuk menunjang padatnya aktivitas sehari-hari. Namun, energi yang tidak terpakai dapat menjadi senjata makan tuan. Kasus kegemukan pada anak mungkin masalah yang sepele, namun bila dibiarkan dapat menjadi musibah di kemudian hari.


Categories: Kesehatan Anak
Tags: anak, obesitas

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.