Ketika Jenis Kelamin Anak Tidak Jelas, Apa yang Harus Dilakukan?

Ketika Jenis Kelamin Anak Tidak Jelas, Apa yang Harus Dilakukan?

Jika kita mendengar ada teman atau saudara yang baru melahirkan, secara refleks kita akan bertanya, “wah perempuan atau laki-laki nih?”

Tapi, tahukah anda ternyata ada kasus dimana pertanyaan sederhana tersebut tidak dapat dijawab dengan mudah. Hal ini terjadi apabila anak mengalami kelainan bawaan dimana penampilan fisik alat kelamin anak sulit dibedakan apakah perempuan atau laki-laki. Kondisi ini secara awam disebut sebagai kerancuan jenis kelamin atau ambiguous genitalia. Tidak jarang, hal ini menyebabkan kesalahan penentuan jenis kelamin dan menimbulkan masalah dimasa depan.

Penolong persalinan (bidan atau dokter) tidak bisa menyatakan secara pasti jenis kelamin bayi yang baru saja dilahirkan. Hal ini dapat terjadi baik pada bayi yang cenderung sebagai laki-laki, atau bayi yang cenderung sebagai perempuan.

Pada kasus pertama, bayi diduga sebagai laki-laik karena terlihat memiliki penis. Namun, setelah diteliti, muara kencing terletak bukan diujung penis, namun seperti perempuan, yaitu lebih belakang mendekati bokong. Selain itu ada juga kondisi dimana kantong pelir bayi nampak membelah dan menyerupai labia mayora (bibir vagina) pada perempuan.

Sebaliknya, ada pula bayi yang terlihat seperti perempuan, namun clitoris nya besar, mirip seperti penis kecil. Kesemua hal ini tentu akan membingungkan penolong persalinan. Apakah ini bayi perempuan atau laki-laki?

Kerancuan jenis kelamin ini (ambigous genitalia) merupakan bagian dari spertrum kelainan yang disebut sebagai  Disorder of Sexual Development (DSD) atau kelainan akibat gangguan proses perkembangan jenis kelamin.

Setidaknya ada tiga macam DSD berdasarkan penyebabnya:

  1. DSD karena kelainan kromosom sex, jumlah kromosom tidak normal yang menyebabkan kerancuan jenis kelamin, misalnya 45,X (Sindrom Turner); 47, XXY (Sindrom Klinifelter).
  2. 46,XY DSD, secara pemeriksaan kromosom berjenis kelamin laki-laki namun memberikan tampilan fisik (fenotipe) seperti wanita, biasanya dikarenakan mutasi gen tertentu
  3. 46 XX DSD, pada kasus ini anak memiliki kromosom wanita namun tampilan fisiknya (fenotipe) seperti laki-laki.

Kelainan ini perlu segera ditangani karena dampak fisik dan psikis tidak hanya mempengaruhi anak, namun juga seluruh keluarganya. Salah satunya adalah kebingungan dalam memberi nama anak. Bila berlarut hingga masa pertumbuhan bukan tidak mungkin anak mengalami konflik psikologis. Misalnya, ternyata orang tua sedari kecil memutuskan untuk membesarkan anaknya sebagai perempuan, namun semasa usia baligh dia tidak mens, tidak tumbuh payudara, malah suara semakin besar dan tubuh tumbuh lebih gagah seperti pria. Tidak jarang pasien-pasien ini menemui dokter dalam kondisi yang sudah dewasa (sudah terlambat).

Segeralah periksa ke dokter (dokter umum/ dokter spesialis anak/ spesialis urologi) bila ibu/penolong persalinan menemui kasus kerancuan kelamin ini. Salah satu pemeriksaan penting yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan kromosom. Pemeriksaan kromosom ini dapat menentukan jenis kelamin anak secara genetik, yaitu 46 XY (untuk laki-laki) dan 46 XX (untuk perempuan). Data tersebut kemudian akan menjadi data dasar dalam mengelola pasien ambiguous genitalia.

Disusun oleh: dr. Nura Eky V.

*Apabila ada yang ingin anda tanyakan mengenai topik ini, silakan tinggalkan pertanyaan anda lewat fasilitas live chat atau melengkapi kolom pertanyaan pada  link ini.


Categories: Kesehatan Anak

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.