Mari Kenali Jenis Makanan yang Sering Memicu Alergi Pada Anak

Menurut Departemen Pertanian Amerika Serikat, alergi makanan dapat terjadi pada 15% dari populasi. Namun dalam satu dekade ini dilaporkan angka kejadian alergi yang meningkat. Jika kita perhatikan, mungkin tetangga, saudara atau bahkan anak kita sendiri mengalami alergi.

Alergi pada makanan bisa menunjukkan spektrum gejala yang luas. Mulai dari gatal-gatal, kemerahan pada kulit, bengkak kemerahan pada bibir atau kulit, hingga diare dan asma. Pada anak yang masih bayi ASI, keluhan diare atau kolik seringkali berhubungan dengan alergi makanan yang dikonsumsi oleh ibu.  Alergi biasanya sering terjadi pada dua tahun pertama kehidupan anak. Seiring berjalannya waktu, tubuh akan mengalami penyesuaian dan tidak menunjukkan reaksi alergi yang signifikan.

Pada anak yang baru akan belajar makan, sikap kehati-hatian ibu diperlukan agar jangan sampai anak mengalami gejala alergi yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Pada saat mengenalkan makanan ibu bisa mencoba bahan makanan tunggal dan menunggunya selama 4 hari untuk mengenali adakah gejala alergi atau tidak. Mencatat makanan apa saja yang sudah diberikan dalam bentuk food diary juga akan sangat membantu ibu mengenali makanan apa yang memicu alergi pada anak.

Nah sekarang, yuk kita kenali makanan apa yang paling sering menyebabkan alergi pada anak!

  1. Protein Susu Sapi

Protein susu sapi dapat menimbulkan alergi baik dalam bentuk susu murni maupun dalam bentuk turunannya seperti keju, coklat susu, es krim maupun kue. Protein susu sapi mengandung sedikitnya 20 komponen protein yang dapat merangsang pembentukan antibodi pada manusia.

Gejala awal dari alergi protein susu sapi biasanya muncul pada saluran cerna, misalnya kembung, kolik, diare dan muntah. Pada kasus yang berat anak bisa mengalami diare dengan lendir dan darah, layaknya orang yang terkena disentri.

Memiliki alergi pada protein susu sapi tidak berarti anak akan mengalami alergi karena daging ataupun bulu sapi. Ibu tidak perlu khawatir untuk memasukkan menu daging sapi dalam diet untuk anak.

  1. Ikan dan Seafood

Ikan, terutama ikan laut merupakan alergen yang kuat. Bentuk alergi yang mucul dapat berupa asma ataupun urtikaria (kemerahan pada kulit). Golongan seafood yang sering menimbulkan alergi adalah udang kecil, udang besar, lobster, dan kepiting. Alergi pada seafood bisa bermanifestasi menjadi  kulit gatal, kemerahan hingga bengkak-bengkak (urtikaria dan angioedem). Memasak seafod hingga benar-benar matang ternyata bisa mengahncurkan sebagian besar alergen utama yang ada pada seafood.

  1. Telur Ayam

Telur ayam diduga dapat menyebabkan alergi pada anak, terutama pada anak dengan dermatitis atopi atau alergi yang muncul pada kulit.  Putih telur mengandung 23  macam komponen protein yang dapat memicu alergi, termasuk diantaranya adalah ovalbumin, ovomucoid, dan ovotransferrin. Sementara kuning telur dianggap kurang alergenik jika dibandingkan dengan putih telur.

Anak yang mengalami alergi telur belum tentu alergi terhadap daging ayam ataupun bulu ayam. Namun diketahui bahwa anak yang alergi telur ayam mungkin alergi terhadap vaksin yang dalam produksi nya ditanam pada media kuning telur, misalnya pada vaksin campak.

 

  1. Kacang-kacangan

Kacang-kacangan baik itu kacang tanah, kacang kedelai atau kacang mede dapat menimbulkan reaksi alergi, namun bersifat ringan. Meskipun begitu, di Amerika Serikat dilaporkan bahwa alergi kacang-kacangan dapat menimbulkan reaksi berat anafilaksis.

  1. Gandum

Gandum biasanya menimbulkan alergi jika terhirup dalam bentuk tepung (baker’s asthma). Namun jika dalam bentuk makanan, gandum tidak selalu menimbulkan alergi karena tercerna oleh enzim makanan.

Makanan lain seperti buah-buahan, meskipun jarang,  juga dilaporkan bisa memberikan reaksi alergi.  Alergi pada buah, misalnya jeruk dapat memberikan gejala berupa rasa gatal pada mulut anak. Gejala alergi pada buah biasanya muncul pada usia 15 bulan  dan berlangsung lama.  Selain buah, bahan makanan seperti daging, coklat, kentang dan jagung juga dapat menimbulkan alergi meskipun angka insidensinya tidak besar. Terakhir, yang perlu diperhatikan juga adalah alergi pada bahan aditif (tambahan) pada makanan. Bahan aditif  yang paling sering menimbulkan alergi adalan bahan pewarna tartazine (warna kuning), bahan pengawet asam benzoat dan bahan penambah rasa MSG.


Categories: Alergi, Kesehatan Anak

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.