Masalah Tidur Pada Saat Bayi Merupakan Prediktor Gangguan Perilaku Saat Balita?

Masalah Tidur Pada Saat Bayi Merupakan Prediktor Gangguan Perilaku Saat Balita?

Dalam istilah pendidikan anak, mungkin kita pernah mendengar istilah “terible two”, atau usia dua tahun yang mengerikan. Hal ini biasanya digunakan untuk menjelaskan perilaku batita berusia dua tahun yang terasa amat merepotkan orang tua. Anak sering mengalami perubahan mood, sering menolak permintaan orang tua, hingga sering tantrum. Hal ini seringkali dianggap wajar dan merupakan bagian dari perkembangan anak yang sedang mengalami transisi.

Namun ada kalanya orangtua merasa bahwa periode “terrible two” ini terus berlanjut menjadi “terrible three” atau bahkan “terrible four”.  Pada anak yang sudah memasuki usia sekolah, ibu tidak jarang mendengar laporan dari guru mengenai perilaku anak yang sulit untuk berkonsentrasi dan mengikuti instruksi. Bisa jadi sebenarnya perilaku “sulit” ini sebenarnya bisa kita amati sejak anak masih bayi. Salah satunya dengan mengamati pola tidurnya pada saat bayi.

Penelitian yang diterbitkan di Development Neuropsychology menemukan hubungan definitif antara riwayat gangguan tidur pada saat bayi dengan perilaku yang “sulit” pada saat balita. Penelitian menemukan bahwa bayi berusia satu tahun yang sering tidur terpotong-potong cenderung memiliki masalah konsentrasi dan menunjukkan masalah perilaku pada saat berusia 3 dan 4 tahun.

Penelitian ini dikerjakan oleh para ahli psikologi dan pendidikan anak dari Tel Aviv University (TAU), Gordon College of Haifa, dan University of Negev. Ketua penelitian adalah Prof. Avi Sadeh dari Tel Aviv University.

Selama 4 tahun, mereka mencatat pola tidur dan perilaku 87 anak  yang menjadi responden. Pada saat anak berusia satu tahun, para peneliti mencatat pola tidur bayi. Sementara outcome perilaku bayi dilaporkan pada 3-4 tahun kemudian.

Agar mendapatkan hasil yang objektif, para peneliti menggunakan alat seperti jam tangan untuk memantau pola tidur anak yang berusia satu tahun.  Kemudian pada saat datang untuk follow up, anak dites dengan menggunakan alat yang terkomputerisasi untuk mengetahui bagaimana tingkat konsentrasi dan perhatian anak. Alat ini dikenal dengan nama Spatial Stroop yang gunanya adalah untuk mengetahui kontrol  perhatian eksekutif anak. Para ahli juga mencatat laporan dari orangtua mengenai gejala gangguan perilaku pada anak.

Hasil penelitian menunjukkan hubungan prediktif antara kebiasaan tidur pada saat bayi dengan kemampuan perhatian dan perilaku pada saat batita. Penelitian ini menekankan pada ikatan yang signifikan antara kualitas tidur (persentase terbangun pada saat malam) pada umur satu tahun dan kebiasaan perilaku dua atau tiga tahun kemudian.

Prof Sadeh menjelaskan bahwa penelitian ini menekankan petingnya intervensi dini pada gangguan tidur pada bayi sedini mungkin. Intervensi dini sangat efektif dalam memperbaiki kebiasaan tidur bayi. Dengan tertanganinnya gangguan tidur sejak bayi, bayi akan tumbuh menjadi batita dan balita yang sehat secara fisik dan mental, tanpa adanya gangguan perilaku.

Nah, bagaimana kira-kira dengan anak anda? Jika saat ini sang buah hati masih berusia bayi dan mengalami gangguan tidur, tidak ada salahnya mulai memperbaiki pola tidur si kecil dari sekarang.


Categories: Kesehatan Anak

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.