Mengatasi Tantrum Pada Anak

Mengatasi Tantrum Pada Anak

Pada saat berjalan-jalan di Mall, kita mungkin pernah melihat anak yang sedang marah dan berguling- guling merengek meminta sesuatu pada orang tuanya. Atau mungkin kita pernah melihat tetangga yang anaknya menangis keras sekali sembari berteriak . Gambaran ini merupakan perilaku yang dikenal sebagai “temper tantrum”.

Temper tantrum adalah suatu masalah perilaku yang sering terjadi pada anak-anak prasekolah dimana anak-anak yang mengalaminya mengekspresikan amarahnya dengan menangis, berteriak,  menendang, menggelesot dilantai, dan terkadang menahan nafasnya.

Sekitar 83% anak berusia 2-4 tahun pernah mengalami tantrum. Tantrum mencapai puncaknya pada usia antara 2-3 tahun dan akan berkurang pada saat anak berusia 4 tahun.

Tantrum merupakan ekspresi frustasi dari anak terhadap tantangan yang sedang ia rasakan. Mungkin saat itu anak merasa kesulitan untuk menemukan jawaban dari pertanyaannya atau kesulitan kesulitan menyelesaikan suatu tugas. Mungkin juga anak tidak menemukan kosa kata yang tepat untuk menggambarkan perasaannya. Frustasi dapat memicu kemarahan dan menyebabkan anak mengalami tantrum.

Saat anak merasa haus, lapar, atau lelah, maka ambang batas mereka untuk  mengalami frustasi akan menurun dan akan lebih mungkin mengalami tantrum.

Bisa jadi kita yang pernah mengalaminya sendiri, baik itu ditempat umum ataupun di rumah. Kondisi seperti ini, baik hanya sebagai penonton ataupun yang mengalaminya sering membuat orang dewasa kebingungan. Tindakan apa yang paling tepat untuk dilakukan? Bisakah kita mencegahnya? Mari kita simak ulasan yang disarikan dari mayoclinic berikut ini!

Tetap Tenang dan Jangan Terpancing

Perlu diingat bahwa sebenarnya anak tidak  bermaksud secara sengaja untuk mengamuk dan mempermalukan orang tuanya. Bagi kebanyakan balita, tantrum adalah cara untuk mengekspresikan rasa frustasi. Untuk anak yang lebih besar, tantrum bisa jadi adalah perilaku yang “dipelajari”. Jika orang tua memberikan apa yang diinginkan anak pada saat ia tantrum, atau orang tua mengizinkan anak untuk membiarkan anak terbiasa melampiaskan rasa frustasinya dengan tantrum, maka tantrum menjadi hal yang biasa.

Cara terbaik untuk menghadapi anak yang tantrum adalah dengan bersikap tenang dan mengabaikan tantrum yang terjadi. Mengganti lokasi dan suasana mungkin akan mengganggu. Jika orang tua sedang berada dirumah dan tidak bisa bersikap sabar, orang tua boleh mengambil time out dan meninggalkan ruangan sebentar.

Jika anak memukul atau menendang seseorang, pegangi anak sampai ia menenangkan diri. Ketika anak sudah tenang, katakan kepada anak bahwa orangtua tidak akan menanggapi anak pada saat mengamuk. Jika anak menginginkan sesuatu, ia harus memintanya dengan menggunakan kata-kata.

Time Out

Metode “time out” merupakan metode yang ampuh digunakan dalam dunia parenting dalam menghadapi anak yang tantrum. Jika tantrum pada anak semakin menjadi pengasuh bisa melakukan “time out” dengan metode berikut ini:

  • Carilah spot “time out”

Pindahkan anak ke tempat yang membosankan, misalnya saja kursi di ruang tamu, atau lantai di koridor. Tunggu hingga anak merasa tenang. Waktu timeout bisa diberikan sebanyak satu menit sesuai jumlah umur anak.

  • Konsisten melakukannya

Jika anak berusaha untuk berjalan-jalan sebelum time out berakhir, kembalikan anak ke tempat time out semula. Jangan memberikan respon apapun atas apa yang dikatakan anak selama masa time out tersebut.

  • Tahu kapan harus mengakhiri time out

Pada saat anak sudah tenang, diskusikan tentang alasan orang tua melakukan time out dan mengapa perilaku yang dilakukan anak tidaklah sesuai. Setelahnya, orangtua dan anak bisa beraktivitas seperti biasa.

Time out sebaiknya tidak digunakan terlalu sering, karena jika tidak, makan tidak akan ampuh lagi dalam mengendalikan anak yang sedang tantrum.

Mencegah Tantrum

Hingga saat ini tidak ada cara yang pasti ampuh untuk mencegah tantrum. Namun kita bisa melakukan beberapa usaha untuk mencegah timbulnya tantrum pada si buah hati:

  • Tetap konsisten

Lakukanlah kegiatan rutin harian. Dengan ini anak menjadi tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan tidak kaget. Displin lah dengan kebiasaan tersebut sebisa mungkin.

  • Rencanakan dengan baik

Pergilah bersama anak pada saat anak tidak merasa lapar atau lelah. Jika ibu misalnya harus menunggu di antrian, jugan lupa siapkan  snack atau mainan favoritnya agar ia tetap sibuk dan tidak bosan menunggu.

  • Ajari anak untuk menggunakan kata-kata

Anak yang masih kecil  sebenarnya mengerti banyak kata dari apa yang sebenarnya  bisa ia ekspresikan. Jika anak adan belum bisa bicara, atau belum bisa bicara jelas, ajari mereke dengan  bahasa isyarat untuk  mengekspresikan seperti “aku mau ini”. “lebih” , “minum” , “capek”, “sakit”, atau “bosan” Jika anak sudah semakin besar, ajari anak untuk menyampaikan perasaannya dengan kata-kata.

  • Biarkan anak membuat keputusan

Hindari untuk berkata “tidak” untuk semua hal. Untuk memberikan anak sense of control, biarkan anak untuk membuat keputusan.  Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan beberapa pilihan pada anak, misalnya “Apakah anak mau menggunakan kaus merah atau kaus biru?”  “Hari ini mau ke taman atau mau ke kebun binatang?”

  • Pujilah perilaku baik

Berikan perhatian ekstra pada saat anak bertindak yang baik. Berikan anak pelukan atau katakan kepada anak betapa bangganya anda ketika anak mengikuti petunjuk dan menuruti orang tua.

  • Hindari situasi yang bisa memicu tantrum

Jangan berikan mainan yang terlalu sulit untuk anak. Jika anak meminta suatu barang pada saat sedang berbelanja, jangan dekatii tempat yang bisa menggoda anak seperti tempat mainan ataupun rak penuh coklat.

Jika misalnya anak menjadi rewel saat menunggu makanan di restoran, pilihlah restoran yang memiliki servis cepat atau bisa dibawa pulang.

Kapan harus memninta bantuan profesional?

Tantrum yang dianggap normal akan berkurang pada saat anak berusia 3-4 tahun. Jika tantrum terus berlanjut, anak mengalami kesulitan dalam bicara sesuai dengan umurnya, anak membahayakan diri dan orang lain, atau pada saat tantrum menahan napas hingga hampir pingsang, maka orang tua sebaiknya berdiskusi bersama tenaga kesehatan. Intervensi dini akan membantu anak menangani masalahnya dan meraih sukses di masa depan.


Categories: Kesehatan Anak

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.