Mengenal Autisme

Mengenal Autisme

Apa yang ada dalam pikiran Anda ketika mendengar kata autisme? Banyaknya berita yang tersebar tentang autisme mungkin membuat Anda bingung dan khawatir. Semoga pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dapat mewakili keingintahuan Anda mengenai autisme.

Apa itu autisme?

Autisme merupakan salah satu kelainan yang termasuk Autism Spectrum Disorder (ASD), yaitu gangguan perkembangan yang ditandai dengan kelainan kualitatif dalam interaksi sosial timbal balik, pola komunikasi, serta minat dan aktivitas yang terbatas dan berulang. Selain autisme, ASD mencakup kelainan lain seperti sindrom Rett, sindrom Asperger, dan gangguan disintergratif masa anak.

Kelainan ini umumnya ditemukan pada masa kanak-kanak, bahkan gejalanya dapat terlihat sebelum usia 3 tahun. Angka kejadian ASD semakin meningkat dalam dua dekade terakhir, hingga mencapai 10-15 kasus per 10.000 populasi secara global. Autisme lebih sering terjadi pada laki-laki dibanding perempuan dengan estimasi rasio 5:1.

Apa saja penyebabnya?

Hingga saat ini belum diketahui penyebab pasti dari autisme. Faktor genetik (keturunan), saraf, metabolisme, infeksi tertentu, paparan toksin dan zat kimia berbahaya, serta kelainan selama kehamilan dan persalinan merupakan beberapa faktor yang dituding meningkatkan risiko kejadian autisme. Namun belum ada satupun dari faktor-faktor di atas yang dapat dipastikan menjadi penyebab autisme.

Benarkah vaksinasi menyebabkan autisme?

Mungkin inilah pertanyaan favorit dari Anda para orangtua. Adanya isu mengenai vaksinasi yang dihubungkan dengan autisme tentu membuat Anda khawatir. Vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella) adalah vaksin yang sering diberitakan berkorelasi dengan kejadian autisme. Namun, dari penelitian-penelitian ilmiah berbasis populasi yang telah dilakukan di berbagai negara, tidak ditemukan hubungan antara kejadian autisme dan vaksinasi MMR.

Isu lain yang berkembang terkait vaksinasi adalah adanya bahan thimerosal yang dihubungkan dengan kejadian autisme. Thimerosal adalah bahan mengandung merkuri yang berfungsi sebagai pengawet vaksin. Keberadaan thimerosal dalam vaksin semakin minimal seiring semakin berkembangnya teknologi kedokteran. Data dari CDC (Centers for Disease Control and Prevention) mengungkapkan bahwa tidak terdapat bukti ilmiah adanya kejadian berbahaya akibat vaksin yang mengandung thimerosal. Penelitian yang dilakukan di berbagai negara juga menunjukkan bahwa kejadian autisme tetap meningkat dalam periode 10 tahun setelah thimerosal diminimalisir bahkan dihilangkan dari vaksin.

Nah, mengingat pentingnya vaksinasi bagi kesehatan dan adanya data di atas yang telah menepis isu-isu miring mengenai vaksinasi, setelah ini Anda tidak perlu merasa was-was untuk melengkapi vaksinasi bagi putra-putri Anda.

Bagaimana mengidentifikasi autisme pada anak?

Autisme memiliki gejala yang sangat bervariasi. Seorang anak bisa menunjukkan gejala autisme sejak lahir. Sedangkan anak lain mungkin pada awalnya menunjukkan pola perkembangan yang normal tetapi kemudian berubah tiba-tiba pada usia 18-36 bulan. Meskipun autisme seringkali dapat
“ditemukan” pada masa kanak-kanak, gejalanya dapat diidentifikasi pada semua kelompok umur. Beratnya derajat gejala juga berbeda-beda, dari yang ringan hingga derajat berat yang membuat penderitanya disable. Berikut ini beberapa gejala yang dapat dijumpai dalam berbagai derajat:

  • Kesulitan dalam komunikasi verbal, termasuk penggunaan dan pemahaman bahasa
  • Ketidakmampuan berpartisipasi dalam percakapan, meskipun anak sudah dapat berbicara
  • Kesulitan dalam komunikasi nonverbal, seperti gerak tubuh dan ekspresi wajah
  • Kontak mata minimal atau bahkan tidak ada sama sekali, padahal fungsi pernglihatan normal
  • Tidak berespon terhadap isyarat-isyarat verbal (misalnya saat dipanggil), padahal fungsi pendengaran normal
  • Sulit berteman, lebih senang bermain sendiri
  • Kesulitan dalam berfantasi dan permainan imaginatif
  • Memiliki cara yang tidak wajar dalam memainkan mainan
  • Kesulitan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan rutinitas atau perubahan lingkungan yang telah dikenal sebelumnya, selalu memaksakan diri mengikuti rutinitas dengan detail tanpa alasan yang jelas
  • Gerakan tubuh dan pola perilaku yang berulang-ulang, seperti bertepuk tangan, berputar-putar
  • Minat khusus terhadap objek-objek yang tidak lazim

 

Apakah autisme juga mempengaruhi kecerdasan intelektual?

Semua tingkatan kecerdasan intelektual (IQ) dapat ditemukan dalam hubungannya dengan autisme. Pada sebagian kasus terdapat retardasi mental. Namun, sebagian besar penderita autisme memiliki tingkat kecerdasan rata-rata bahkan di atas rata-rata. Beberapa bahkan memiliki keahlian yang luar biasa dalam bidang-bidang selain komunikasi dan sosial, seperti melukis, musik, menghafal, dan berhitung.

Untuk Anda para orangtua, sebaiknya Anda memantau tumbuh-kembang putra-putri Anda secara rutin. Segeralah berkonsultasi dengan dokter bila Anda merasa ada hal yang tidak wajar dalam perkembangan anak Anda. Ikatan Dokter Anak Indonesia dan American Academy of Pediatrics merekomendasikan dilakukan screening autisme pada anak di usia 18 bulan – 3 tahun. Screening dengan menggunakan kuesioner CHAT (Checklist for Autism in Toddlers) dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Dokter akan melakukan rujukan ke dokter spesialis anak bila menemukan adanya kelainan dalam pemeriksaan tumbuh-kembang.

Disusun oleh: dr. Wang Erna


Categories: Kesehatan Anak

Comments

comments