Mengenal Tanda Bahaya Diare Pada Anak

Mengenal Tanda Bahaya Diare Pada Anak

Diare adalah buang air besar sebanyak 3 kali atau lebih dalam sehari dengan konsistensi kotoran cair atau lembek. Diare merupakan penyebab kematian pada 42% bayi dan 25,2% balita (Riskesdas 2007). Orang tua harus waspada jika anak mengalami diare karena anak dengan diare berisiko mengalami kekurangan cairan, terlebih lagi jikaa diare disertai dengan muntah. Anak yang mengalami dehidrasi jika tidak mendapatkan terapi cairan yang memadai akan sangat cepat jatuh ke kondisi syok yang kemudian menyebabkan kegagalan organ multipel yang sering berakhir pada kematian.

Tingkat dehidrasi pada anak dengan diare bisa dinilai dengan memperkirakan jumlah cairan yang keluar baik melalui buang air besar atau muntah. Orang tua bisa menghitung berapa kali anak  buang air besar dan muntah serta berapa banyak. Orang tua juga bisa menghitung jumlah cairan yang diminum anak, sehingga orang tua dapat membandingkan antara cairan yang keluar baik melalui buang air besar atau muntah dengan cairan yang diminum anak.

Selain hal tersebut di atas, orang tua dapat menilai tanda-tanda dehidrasi ringan pada anak, di antaranya: (1) anak rewel, anak tidak mau diam meskipun sudah ditenangkan oleh ibu/pengasuh terdekatnya; (2) anak menangis, tetapi tidak keluar air mata (3) anak tampak sangat kehausan ketika diberi minum; dan (4) mata tampak lebih cekung dibandingkan biasanya.

Jika anak yang mengalami dehidrasi ringan tidak segera tertangani, anak akan jatuh ke dalam kondisi dehidrasi berat, yang ditandai dengan : (1) anak tampak lemah, tidak menangis, tampak mengantuk dan mudah tertidur; (2) anak tidak berespon ketika diberi minum; (3) mata tampak sangat cekung; dan (3) ujung-ujung tangan dan kaki teraba dingin.

Orang tua dan pengasuh anak harus waspada akan tanda-tanda dehidrasi pada anak. Anak dengan diare harus segera mendapatkan cairan yang memadai untuk mencegah dehidrasi. Jika ditemukan tanda-tanda dehidrasi pada anak, segera bawa ke pelayananan kesehatan terdekat.

Disusun oleh: dr. Ayu Fitri


Categories: Kesehatan Anak

Comments

comments