Penggunaan Antibiotik Berulang Pada Anak Dapat Memberikan Efek Buruk Bagi Perkembangannya Di Masa Depan

Penggunaan Antibiotik Berulang Pada Anak Dapat Memberikan Efek Buruk  Bagi Perkembangannya Di Masa Depan

Masih dalam rangka memperingati World Antibiotik Awareness Week yang diperingati pada 16- 22 November ini, sehatmagz akan berbagi informasi untuk menjadikan kita lebih bijak dalam penggunaan antibiotik. Kali ini informasi yang akan kita bahas adalah bagaimana efek buruk penggunaan antibiotik bisa terjadi pada anak-anak kita.

Anak-anak sebagai individu yang masih memiliki sistem imun yang belum sempurna, tidak bisa dipungkiri sering mengalami infeksi, terutama infeksi virus. Batuk, pilek,  sinusitis, atau bahkan infeksi pada telinga adalah jenis infeksi yang sering terjadi pada anak. Belum lagi penyakit sistemik seperti demam berdarah, campak atau demam tifoid. Orang tua mana yang tidak khawatir bila anaknya terserang salah satu penyakit tersebut. Segera berkonsultasi kepada dokter dan mendapatkan penanganan yang tepat adalah langkah pertama yang segera dilakukan saat menyadari sang buah hati sedang tidak sehat. Namun, ada kalanya orang tua yang bersikap “kreatif” dan mencoba melakukan self medication,  misalnya dengan membeli obat sendiri di apotik ataupun mengulang resep yang dahulu pernah digunakan. Tak jarang, salah satu jenis obat yang digunakan adalah antibiotik.

Praktik self medication dengan antibiotik ini  seringkali menyebabkan penggunaan antibiotik yang tidak tepat indikasi. Antibiotik merupakan obat yang ditujukan untuk membasmi bakteri atau parasit saja, namun bukan virus. Padahal kebanyakan penyakit yang terjadi pada anak disebabkan oleh virus. Sebenarnya, penggunaan antibiotik yang tidak rasional juga tidak hanya dilakukan oleh orang tua, namun juga oleh praktisi kesehatan. Karena terbatasnya alat diagnostik, tak jarang ada praktisi kesehatan yang “menembak” memberikan antibiotik pada pasien-pasien anaknya, meskipun tanpa indikasi yang jelas. Hal ini tentu disayangkan, karena selain meningkatkan risiko bakteri yang resisten, perilaku ini juga bisa merugikan anak-anak kita.

Pengaruh buruk apa yang bisa diterima anak jika mendapatkan antibiotik secara tidak rasional? Ulasan berikut yang dirangkum dari sciencedaily.com semoga bisa membuka mata kita, serta menjadikan kita lebih berhati-hati pada penggunaan antibiotik pada anak yang terlalu sering dan tidak rasional. Berikut ini rangkumannya:

Penelitian pada hewan  yang dilakukan New York University Langone Medical Center  menemukan  penggunaan antibiotik yang sering pada anak mungkin memberikan pengaruh yang signifikan pada perkembangan anak di kemudian hari.

Dalam penelitian yang dipublikasikan pada 30 Juni 2015 di  Jurnal Nature Communications, diketahui bahwa  hewan coba yang diberikan dua jenis antibiotik yang sering digunakan pada anak-anak, yaitu amoxicillin dan golongan makrolide, mengalami kenaikan berat badan dan memiliki tulang yang lebih besar jika dibandingkan dengan kelompok kontrol. Selain itu ditemukan fakta juga bahwa penggunaan kedua jenis antibiotik juga merusak susunan bakteri baik didalam usus (mikrobiom).

Selama penelitian, hewan coba mendapatkan tiga kali penggunaan amoxicillin (jenis antibiotik spektrum luas), tylosin (yang tidak digunakan pada anak-anak, namun mewakili antibitok golongan makrolida yang sekarang mulai populer pada anak-anak), atau campuran dari dua jenis antibiotik tersebut. Untuk meniru penggunaannya pada anak-anak, para peneliti memberikan hewan coba jumlah resep yang sama, dalam dosis yang sama yang sering diterima oleh anak-anak pada dua tahun awal kehidupannya. Sementara itu kelompok kontrol tidak mendapatkan obat apapun sama sekali.

Para peneliti mengingatkan bahwa penelitian ini masih terbatas pada hewan. Namun begitu, hasil yang diperoleh mirip dengan berbagai penelitian lain yang mencari tahu bagaimana efek pajanan antibiotik pada anak di usia dini (kurang dua tahun) terhadap perkembangan anak. Para peneliti menjelaskan bahwa berbagai hasil penelitian ini kelak akan membantu membuat panduan durasi dan jenis antibiotik yang sebaiknya digunakan pada anak-anak. Rata-rata anak di Amerika Serikat mendapatkan 10 resep antibiotik pada saat usianya menginjak 10 tahun.

Penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang menemukan bahwa pajanan antibiotik selama periode kritis awal perkembangan anak anak merubah susunan bakteri pada usus dan secara permanen memprogram ulang metabolisme tubuh, serta menjadi faktor risiko terjadinya obesitas. Dalam sebuah penelitian terbaru ditemukan bahwa pemberian tylosin memberikan efek jangka panjang pada berat badan, sementara pemberian amoksisilin memberikan efek yang paling besar pada pertumbuhan tulang.

Berdasarkan data DNA, penelitian ini juga menemukan bahwa kedua antibiotik mengganggu susuan bakteri baik di dalam usus (mikrobiom). Antibiotik mengubah ekologi mikrobiom dalam hal banyaknya jenis organisme, keanekaragaman, serta komposisi dan struktur komunitas dari bakteri usus. Penggunaan obat tidak hanya mengubah spesies bakteri, namun juga jumlah relatif gen mikroba yang berhubungan dengan fungsi metabolik tertentu.

Lebih jauh lagi, penelitian ini menunjukkan bagaimana mikrobiom yang sudah terpajan antibiotik menjadi lebih tidak mudah beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi. Pada saat para peneliti mengubah jenis makanan pada hari ke 41 dengan makanan tinggi lemak, hewan coba pada kelompok kontrol dapat langsung beradaptasi dalam waktu satu hari. Sementara itu, meskipun hewan coba yang mendapatkan pajanan antibiotik ada yang bisa melakukan nya dalam satu hari, kebanyakan membutuhkan waktu dua minggu untuk melakukan perubahan. Pada tikus yang terpajan dengan tylosin bahkan ada yang tidak bisa beradaptasi dengan diet tinggi lemak hingga berbulan-bulan kemudian.

Melihat fakta-fakta yang ditemukan selama penelitian dengan hewan coba, para peneliti menekankan pentingnya kewaspadaan penggunaan antibiotik makrolid yang semakin sering pada anak-anak. Penggunaan antibotik sebaiknya dilakukan dengan bijak, tepat indikasi, serta tepat dosis.

Baca juga:

Pemberian Antibiotik pada Bayi Berisiko Membuat Anak Mudah Sakit di Masa Depan?

Antibiotik, kapan perlu digunakan dan kapan tidak perlu?

5 Jenis Penyakit yang Tidak Selalu Memerlukan Antibiotik

Sumber featured image: huffingtonpost


Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.