Siasat untuk Si Kecil yang Sulit Makan

Siasat untuk Si Kecil yang Sulit Makan

Anak adalah tahap kehidupan manusia yang terbilang unik. Bagaimana tidak, setiap perkembangannya selalu menimbulkan decak kagum. Celotehan-celotehan nya pun sering mengundang tawa anggota keluarga. Namun, tingkah laku anak sering pula membuat waswas, terutama bagi para ibu. Mereka akan lekas panik bila sang buah hati menunjukkan perilaku yang tidak wajar, salah satunya jika anak sulit untuk makan.

Seorang ibu akan cemas bercampur kesal bila melihat anaknya ogah disuapi, atau berlari kesana-kemari saat jam makan. Begitu juga dengan anak yang selektif, tidak mau kudapan lain selain junk food dan makanan-makanan yang kurang bergizi. Walau terdengar sepele, persoalan ini harus disikapi dengan tepat. Apabila salah dalam menyikapinya, maka akan mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Saat ini, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah dalam mengentaskan masalah gizi. Menurut Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2010, 18% balita Indonesia memiliki berat badan di bawah garis normal. Sekitar 13% balita menderita gizi kurang, dan 5% sisanya menderita gizi buruk. Penduduk Jawa Barat sendiri, 13% balita nya memiliki status gizi di bawah normal.

Anak yang malas makan tidak selalu diakibatkan oleh penyakit serius. Menurut Clinical Investigation of Feeding Difficulties in Young Children: A Practical Approach, terdapat tanda-tanda yang merujuk pada suatu penyakit saluran pencernaan. Tanda-tanda tersebut antara lain nyeri menelan, menangis dan mengeluh nyeri pada perut setelah menelan makanan, batuk berminggu-minggu, dan berat badan turun drastis. Tanda-tanda tersebut dapat menjadi sinyal bagi orang tua untuk membawa anak ke dokter.

Asupan makan kurang

Banyak ibu yang salah persepsi mengenai porsi makan anak. Terkadang ibu memberikan porsi yang terlalu besar, hingga hampir menyamai porsi orang tuanya. Padahal, ukuran organ pencernaannya lebih kecil daripada orang dewasa. Standar satu porsi makan anak adalah seukuran kepalan tangannya. Misalnya, nasi seukuran kepalan tangan ditambah lauk pauk dan sayuran yang masing-masing seukuran kepalan tangan. Patokan lain adalah berat badan. Apabila berat anak masih dalam batas normal menurut kelompok usianya, maka tidak ada masalah berat pada nafsu makannya. Memaksa anak untuk makan melebihi porsinya akan mengganggu perkembangannya dalam hal mengenal rasa lapar dan kenyang. Karena telah lama dibiasakan makan melebihi jumlah seharusnya, di masa depan kebiasaan ini akan menetap sehingga beresiko mengalami kelebihan berat badan atau obesitas.

Perilaku anak berkaitan erat dengan lingkungannya. Contoh, anak yang terdistraksi oleh benda-benda sekitarnya, sulit untuk memusatkan perhatiannya pada makanan. Anak dapat duduk di kursi tinggi yang didesain khusus, sehingga otomatis ia akan diam di tempat saat makan. Hilangkan juga benda-benda yang dapat mengalihkan perhatian anak. Biasakan juga untuk memberikan sendok pada anak, agar anak dapat makan sendiri sekaligus menstimulasi gerak motoriknya. Apabila anak tetap sulit untuk menerima makanan, coba bujuk dia dengan memberikan mainannya. Anak yang nyaman dengan lingkungannya akan lebih mudah melahap makanan.

Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang tidak hanya sebatas lingkungan fisik, tapi juga mental. Usahakan anak terbebas dari tekanan emosional. Jangan memarahi anak apabila ia masih sulit makan. Menurut penelitian, segala bentuk sikap negatif (memarahi, mengancam, memberi hukuman) pada anak dapat menanamkan trauma pada makanan tertentu, sehingga keinginannya untuk makan akan hilang.

Rumah tangga yang baik adalah rumah tangga yang memiliki norma dan aturan rumah yang baku. Seluruh anggota keluarga harus menjalankan aturan tersebut secara konsisten, termasuk jadwal makan. Ajarilah anak untuk memakan makanan berat tiga kali sehari dan makanan ringan dua kali sehari, yaitu di sela-sela waktu makan pagi-siang dan siang-malam. kebiasaan anak untuk ngemil tidak pada waktunya akan membuatnya kenyang sebelum memakan hidangan utama, sehingga asupan gizi pun menjadi kurang. Selain itu, melatih anak untuk mematuhi aturan dapat mencetak pribadi yang disiplin.

Memilih-milih makanan

Ada kalanya anak benar-benar menolak untuk makan, bahkan membuka mulut pun tidak mau. Sejatinya, tingkah laku anak dalam meneliti rasa, tekstur, bau dari makanan merupakan tahap perkembangan yang normal, yang dikenal dengan sebutan neophobia. Sejak lahir, anak cenderung menyukai rasa manis, seperti susu, kue, dan permen. Sayur-sayuran dengan rasa pait, yang merupakan antagonis dari rasa manis, cenderung sulit diterima lidah anak.

Pada beberapa anak, neophobia ini berlanjut pada ketidakseimbangan gizi, karena anak bersikeras memakan makanan dengan gizi yang kurang baik. Disinilah peran orangtua untuk membimbing anak dalam memilih makanan. Setiap hari, cobalah untuk menyediakan makanan yang anak tidak suka. Sediakan di tempat yang terjangkau oleh anak. Walau percobaan ini tidak berhasil, lakukanlah lagi keesokan harinya. Berikan waktu bagi anak untuk mengenali makanan tersebut. Biasanya diperlukan belasan hingga puluhan kali percobaan hingga anak mulai ingin mencicipi.

Untuk lebih menarik minat anak, makanan tersebut dapat disajikan dalam berbagai variasi masakan, atau dicampurkan dengan bahan makanan yang ia gemari. Selain cara yang telah disebutkan, anak dapat diajak bermain tebak gambar mengenai makanan, atau melalui permainan interaktif dalam komputer maupun gadget. Tujuannya adalah menjelaskan bahwa makanan tersebut tidak buruk untuk dimakan dengan suasana yang menyenangkan bagi anak. apabila anak sudah mulai mencicipi makanan yang sebelumnya ia tidak sukai, berilah dia penghargaan, misalnya dengan mengajaknya jalan-jalan.

Tanggung jawab keluarga

Sudah sewajarnya seorang anak melihat orang tuanya sebagai panutan. Dalam konteks pemilihan makanan, orang tua pun harus konsisten dengan aturan yang dibuat. Apabila orang tua menginginkan anaknya memakan sayuran tapi mereka tidak, maka batin anak akan tetap menolak. Orang tua juga bertanggung jawab dalam menjaganya dari paparan makanan dan minuman yang kurang baik bagi kesehatan.

Mengubah pola makan memang bukan perkara yang mudah. Namun, lepas dari segala upaya untuk mendorong nafsu makan anak, konsistensi orang tua dalam memberi bimbingan adalah kunci keberhasilannya. Tidak hanya dalam aspek kesehatan, tetapi juga pada aspek tumbuh kembang lainnya.

 Disusun oleh: Dr. Dicky K. Gumilang


Categories: Kesehatan Anak

Comments

comments