Ssst, Ayah Juga Bisa Merasakan “Baby Blues” Lo!

Ssst, Ayah Juga Bisa Merasakan “Baby Blues” Lo!

Seorang ayah ternyata juga bisa merasakan stress setelah kelahiran anaknya. Diperkirakan satu dari 10 ayah mengalami kondisi yang dikenal dengan istilah Postnatal Depression (PND). PND biasanya terjadi sejak enam bulan hingga satu tahun setelah kelahiran bayi. National Institute of Child Health and Human Development Amerika Serikat bahkan menemukan fakta bahwa  62 % ayah baru sesekali merasa “biru” selama 4 bulan pertama setelah kelahiran bayinya.

Apa yang dirasakan ayah tidak persis sama dengan baby blues syndrome yang dirasakan oleh ibu baru. Baby blues syndrome pada ibu yang baru melahirkan, lebih berhubungan dengan fluktuasi hormonal yang terjadi dan dapat menghilang sendiri setelah 2 minggu. Sementara PND yang bisa terjadi pada ayah, lebih berhubungan dengan kondisi emosional yang terjadi pada ayah. Selain itu, PND pada ayah memiliki onset yang lebih lambat dan durasi yang lebih lama dibandingkan baby blues syndrome biasa.

Ada sejumlah hal yang dapat menjadi pemicu seorang ayah baru mengalami postanatal depression. Hal ini antar lain adalah:

  1. Perasaan takut menjadi ayah

Seorang laki-laki mungkin merasa  bahwa setelah menjadi ayah kebebasannya akan berkurang. Waktu yang sebelumnya bisa digunakan untuk lebih banyak bekerja atau bermain game kesukaan akan berkurang untuk mengurus sang buah hati.

  1. Problem keuangan

Memiliki anak tentu akan menambah beban finansial keluarga. Sejumlah pos keuangan perlu dipersiapkan. Mulai dari proses kehamilan, persiapan kelahiran, hingga biaya pendidikan. Seorang ayah sebagai seseorang yang bertanggungjawab menyediakan nafkah mungkin merasa lebih stress menghadapi bertambahnya kebutuhan. Padahal, banyak juga orang yang percaya bahwa setiap anak sudah membawa rejekinya masing-masing, sehingga masalah finansial ini tidak perlu terlalu dicemaskan.

  1. Merasa tidak percaya diri dalam menjalankan peran ayah

Ayah memiliki peran besar dalam memberikan keteladanan bagi anggota keluarganya. Hal ini terlihat lewat implementasi nilai-nilai kebaikan dalam keseharian. Sejumlah ayah mungkin merasa bahwa dirinya “belum cukup baik” untuk memberikan keteladanan tersebut. Hal ini menambah beban dan menyebabkan seorang ayah cenderung untuk menghindar.

Seringkali yang membuat perasaan stress menjadi lebih buruk adalah karena seorang pria cenderung tidak mau  menyampaikan perasaan sedih yang sedang dialami. Hal ini dapat terjadi karena perkara gengsi, atau memang kemampuan kemunikasi yang kurang baik. Padahal memendam perasaan  justru akan memperberat depresi yang dialami. Ada baiknya seorang ayah yang merasakan tekanan untuk berbagi cerita kepada pasangan atau anggota keluarga lainnya. Studi yang dimuat dalam jurnal Pediatrics di tahun 2006 menyebutkan bahwa ada sekitar 10% kasus PND pada ayah yang jatuh menjadi PND sedang-berat, atau hampir sama dengan PND sedang berat yang terjadi pada kelompok ibu, yaitu 14%.

Perasaan stress dan tertekan yang berlanjut menjadi depresi yang dalam dapat diketahui dengan mengamati ada tidaknya gejala seperti ini:

  1. merasa sedih dan sering terlihat murung
  2. kehilangan ketertarikan pada kesenangan
  3. merasa tidak berenergi, dan lemas terus
  4. mengalami gangguan tidur (insomnia atau justru banyak tidur)
  5. terobsesi dengan masalah yang dihadapi (misalnya masalah finansia)
  6. mudah tersinggung
  7. mulai menarik diri dari keluarga

Apabila ditemukan  gejala utama dari PND berupa  perasaan sedih, depresi, atau kehilangan ketertarikan pada kenikmatan atau kesenangan,  jangan ragu untuk meminta bantuan profesional untuk mengatasinya.

Seperti ibu baru, seorang ayah baru juga sebenarnya membutuhkan dukungan, tempat berbagi cerita dan support. Hanya saja, seringkali sebagai laki-laki, seorang ayah tidak mau mengatakannya. Bantulah ayah untuk membagi emosi  serta tekanan yang  dirasakan. Bersama-sama pasangan menambah ilmu parenting juga akan sangat bermanfaat agar ayah merasa percaya diri dengan peran barunya. Jika dirasakan terlalu penat, ayah juga boleh meminta “me time” dan melakukan relaksasi. Asal dikomunikasikan dengan baik, tentu pasangan tidak merasa keberatan akan hal ini.

Dengan berbagi beban, dan selalu berusaha mengerti yang dirasakan oleh pasangan  semoga tercapai keluarga bahagia yang diidamkan.


Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.