Waspada Asap Kebakaran Hutan Menyebabkan Pneumonia Pada Anak

Waspada Asap Kebakaran Hutan Menyebabkan Pneumonia Pada Anak

Asap kebakaran hutan yang melanda  sebagian  Sumatera dan Kalimantan selama satu bulan terakhir bisa digolongkan sebagai bencana nasional. Kurang lebih 40 hektar lahan telah terbakar. Asap kebakaran tidak hanya tersebar di pusat kebakaran, namun juga telah menjangkau ke  pemukiman penduduk. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tentang bahaya asap bagi kesehatan masyarakat yang terpapar. Apalagi golongan rentan seperti ibu hamil, orang tua dan anak-anak.

(Baca juga: Bahaya Asap Kebakaran Hutan Bagi Kesehatan Kita)

Anak-anak  merupakan salah satu golongan yang perlu dilindungi dari bahaya asap. Sistem kekebalan yang belum matang menjadi salah satu alasan mengapa anak termasuk kedalam golongan rentan. Jika kita perhatikan, tanpa adanya paparan polusi yang bermakna, anak-anak sudah sering mengalami penyakit batuk atau pilek. Kondisi asap dengan partikel bahayanya akan meningkatkan risiko terjadinya ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas).

ISPA merupakan penyakit infeksi ini disebabkan kuman yang dapat berupa bakteri, virus, atau jamur. Jika menyerang seseorang dengan kekebalan yang kurang baik, kondisi ini dapat memburuk dan menyebabkan peradangan pada paru-paru atau pneumonia.

Selain polusi udara, risiko seorang anak terkena radang paru akan meningkat jika disertai dengan kondisi seperti gizi buruk, berat badan lahir rendah (BBLR),  belum di imunisasi campak, serta tinggal di pemukiman yang padat.

Menurut laporan WHO, pnuemonia merupakan penyebab kematian utama anak-anak di dunia. Setiap tahunnya di seluruh dunia ada sekitar 1,4 juta balita meninggal karena pneumonia. Hal ini berkontribusi pada 18% sebab kematian balita diseluruh dunia.

Kondisi penumonia dapat menyebabkan gangguan pernafasan dan jika tidak ditangani secara tepat dapat menyebar ke seluruh sistem pernafasan tubuh. Akhirnya tubuh tidak mendapatkan oksigen yang mencukupi, hal ini dapat berakibat fatal bahkan mematikan.

Untuk itu sebagai orang tua kita perlu tahu gejala dan penanganan dari infeksi saluran pernafasan itu sendiri.

Kuman penyebab pneumonia menyebar melalui udara bersama dengan percikan ludah (droplet) saat penderita pneumonia batuk atau bersin.

Gejala pada penyakit ini didapatkan:

  • Demam tinggi
  • Batuk
  • Sesak napas yang ditandai frekuensi pernapasan lebih dari 40 kali per menit (normal 20 kali per menit).
  • Dapat juga ditemukan bunyi suara napas “ngik” atau mengi (wheezing)
  • Bila sesak dirasakan berat akan terlihat otot bagian dada cekung saat menarik napas.
  • Nafsu makan berkurang bahkan tidak ada
  • Badan lemah
  • Pada pneumonia berat akan ditemukan bibir terlihat membiru, sulit berkomunikasi, kejang bahkan penurunan kesadaran.

Jika bayi atau anak memiliki sistem pertahanan tubuh (imunitas) yang baik maka akan bertahan terhadap serangan kuman berkat daya tahan tubuh alami dalam dirinya. Namun, bila sistem pertahanan tubuh ini menurun akan rentan terhadap penyakit pneumonia. Menurunnya sistem ini disebabkan oleh berbagai hal, yakni

  • Gizi buruk
  • Kurang mendapatkan ASI eksklusif
  • Terkena infeksi tuberculosis dan infeksi virus campak, cacar air dan HIV

Hal yang sedang marak terjadi yakni polusi udara akibat kebakaran hutan, diharapkan orang tua mengajak anaknya untuk tidak beraktifitas di luar rumah, serta jika ingin beraktifitas diluar rumah dapat menggunakan masker pelindung.

Hal lain yang dapat mengurangi kejadian penyakit pneumonia:

  • Melakukan imunisasi terhadap kuman Haemophillus influenzae tipe B (Hib), pneumococcus, campak, difteri serta pertusis.
  • Pemberian gizi yang cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuh alami
  • Perbaikan lingkungan rumah, terutama pemukiman padat penduduk.

Jika anak sudah terjangkit penyakit pneumonia pastikan anak diobati secara tepat menggunakan antibiotika. Dengan identifikasi yang cepat dan tepat, sebagian besar penderita pneumonia dapat diobati dengan rawat jalan.

Sumber gambar: http://blogs.ft.com/photo-diary/tag/riau-province/


Comments

comments