Alternatif Pengobatan Kanker Karsinoma Nasofaring

Alternatif Pengobatan Kanker Karsinoma Nasofaring

Sehatmagz – Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Di Indonesia, kasus penyakit ini mencapai 6,2 per 100 ribu penduduk setiap tahunnya.

Karsinoma Nasofaring bersifat sangat radiosensitif. Karena itu, radioterapi digunakan sebagai terapi standar KNF stadium awal. Sementara, pada KNF stadium lanjut, kombinasi radioterapi dan kemoterapi harus diberikan untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

“Di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, terapi KNF,” ungkap pengajar di Departemen THT Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) dr Sagung Rai Indrasari SpTHT KL.

Dia mengatakan, di Indonesia ketersediaan alat radioterapi belum seimbang dengan jumlah penderita KNF. Contohnya, kata dia, data dari tahun 2009 sampai 2010 terdapat 50 penderita KNF di bagian THT-KL RSUP Dr Sardjito. Namun, 37 pasien atau sekitar 74 persen harus menunggu. “Sebanyak 10 dari penderita tersebut harus menunggu hingga lebih dari enam bulan.”

Dalam disertasinya yang berjudul “Studi Klinis Pengobatan Photodynamic Therapi (PDT)”, Sagung mengangkat terapi lanjutan untuk KNF, yaitu photodinamic therapy (PDT) sebagai terapi nonbedah minimal invasif, seperti dilansir dari harianrepublika. “Dalam pengamatan jangka panjang, dilaporkan bahwa PDT bisa meningkatkan angka harapan hidup hingga lima tahun penderita KNF residu,” ujarnya yang mengamati penerapan PDT pada pasien dengan ketebalan tumor kurang dari satu sentimeter.

Angka harapan hidup pasien KNF dengan PDT sebesar 60,7 persen dibandingkan pasien KNF non-PDT (22,9 persen). Lalu, analisis faktor prognosis untuk keberhasilan PDT menunjukan angka harapan hidup pria 73,5 persen dan perempuan 42,2 persen. Dari faktor usia, pasien KNF PDT usia di bawah 40 tahun sebesar 53,0 persen.

Beberapa waktu sebelumnya, ketika divisi onkologi kepala dan leher dari RSUP Dr M Djamil Padang dr Sukri Rahman Sp THT –KL mengatakan, KNF lebih dikaitkan dengan infeksi kronis virus pada tenggorokan oleh virus Epstein-Barr (EBV).

Faktor risiko lain yang diduga erat dengan tumbuhnya KNF adalah konsumsi ikan asin terus menerus, penggunaan obat nyamuk bakar, menghirup asap kayu bakar, dan debu kayu, menghirup pestisida, dan faktor genetik (keturunan).

Walau begitu, Sukri mengungkapkan, sebenarnya kanker nasofaring dapat dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat. “Hal ini penting, mengingat segala bentuk makanan yang mengandung pengawet dapat berisiko menimbulkan kanker di kemudian hari. Tak terkecuali kanker nasofaring ini,” pungkasnya.

 


Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.