Cegah Korban Jiwa Lewat Pengenalan Gejala DBD

Cegah Korban Jiwa Lewat Pengenalan Gejala DBD

Sehatmagz – Demam berdarah dengue (DBD) merupakan ancaman kesehatan yang cukup serius di Indonesia. Asia Tenggara dengan 600 juta penduduknya adalah daerah endemik DBD. Indonesia masuk dalam kategori A (endemik tinggi) yang artinya penyakit DBD merupakan alasan utama untuk dirawat inap dan penyebab utama kematian pada anak.

Meskipun penyakit ini tergolong serius, sebagian besar masyarakat dan orang tua tidak semua mengetaui gejala maupun tanda dari penyakit DBD. Penanganan individual yang tidak tepat, tak jarang juga memperparah risiko kematian, khususnya pada anak-anak.

Menurut ketua umum pengurus pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr Aman B Pulungan SpA(K), saat ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat, DBD pada tahun 2014 mencapai 71.668 kasus dengan 641 kasus kematian. Sedangkan, penelitian GSK Consumer Health Care Indonesia mengetahui tentang demam berdarah, tapi belum tahu benar cara pengobatannya.

“Rendahnya pemahaman DBD dan penanganannya membutuhkan tindakan proaktif dari semua elemen masyarakat guna meningkatkan kesadaran terhadap penanggulangan dan pencegahan DBD di Indonesia,” ungkap Aman dalam acara peresmian gerakan Bersama Melawan Demam Berdarah di Hotel JW Marriot Jakarta, Kamis (3/3).

Ketidaktahuan di masyarakat pada obat untuk anak saat DBD bisa mengakibatkan salah konsumsi obat. Akibatnya, bisa berisiko tinggi gangguan lambung, terutama pendarahan pada pasien DBD anak.

Berdasarkan dara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lanjut Aman, penanganan tepat untuk pasien DBD dimulai dari pemberian cairan yang cukup dan penanganan demam yang tepat. Parasetamol menjadi obat paling direkomendasikan untuk mengurangi nyeri dan demam.

“Jumlah anak menderita DBD di Indonesia tidak lebih dari satu persen. Walau begitu, masalah DBD harus segera diatasi. Penanganan awal sedini mungkin penting karena DBD dapat menyerang siapa saja. Mulailah dengan memberantas jentik nyamuk di sekitaran rumah,” tambahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Vektor dan Zoonotik Kemenkes drg R Vensya Sitohang Mepid mengungkapkan, jentik nyamuk pembawa virus DBD ini bisa ditemukan di mana saja, termasuk di dalam rumah.

“Penyebabnya bisa dari banyak hal, seperti akibat urbanisasi, mobilitas penduduk yang cukup tinggi, pembangunan gedung yang tidak teratur, serta kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan,” jelas dia.

Untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB) DBD di tiap wilayah, lanjut Vensya, diperlukan penanganan yang tepat serta menjalankan 3 M Plus, yaitu menguras (sambil disikat), menutup tampungan air, dan mengubur barang-barang bekas. Sementara plusnya adalah memperbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar atau rusak.

Guru Besar Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis Departemen Ilmu Keseharan FKUI – RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Prof dr Sri Rezeki Hadinegoro SpA(K) berpendapat, orang tua seharusnya mengenali bahaya dan gejala anak yang terkena DBD sejak dini. Contohnya, amati gejala demam ringan selama tiga hari, pendarahan atau mimisan,menolak makan dan minum, sakit kepala, serta nyeri perut yang hebat.

“Jika terjadi hal itu, baiknya diperiksa ke dokter untuk menadapatkan penanganan yang tepat. Karena, DBD merupakan penyakit yang masuk ke dalam derajat berat. Sehingga, tak jarang dapat menyebabkan kematian, tak terkecuali pada anak-anak,” ungkap dia.

Pasien DBD, kata dia, juga perlu diberikan asupan makanan dan cairan. Tak lupa juga agar pasien diusahakan memperbanyak tidur dan beristirahat agar tubuh tidak lelah, yang bisa menyebabkan trombosit menurun dan hilang kesadaran, seperti dilansir dari harianrepublika.


Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.