Gangguan Kelenjar Tiroid: Penyakit yang Sering Terabaikan

Gangguan Kelenjar Tiroid: Penyakit yang Sering Terabaikan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengakselerasi pembangunan multisektoral, tak terkecuali sektor kesehatan. Pelayanan medis mencakup sistem informasi, diagnosis, dan penatalaksanaan penyakit telah ditunjang oleh berbagai penelitian yang membuat presisi dan efektivitasnya semakin ideal. Peralatan medis juga banyak mengalami inovasi dan penyempurnaan agar dapat menunjang diagnosis secara lebih akurat dan menjadi alternatif terapi yang mutakhir. Namun, kekeliruan dan ketidaktelitian dalam menentukan penyakit masih kerap terjadi. Hal ini tidak bisa dibebankan pada kemajuan IPTEK belaka, karena faktor manusia/operator teknologi juga ikut berperan. Pola pikir manusia yang terkadang kurang komprehensif menimbulkan ketidaktelitian dalam menilai kesehatan seseorang.

Diantara penyakit-penyakit yang luput dari diagnosis dokter, gangguan kelenjar tiroid adalah salah satu yang paling sering. Kelenjar tiroid, yang bila membesar dikenal sebagai kelenjar gondok, merupakan kelenjar yang terletak di leher, disekitar saluran pernapasan. Fungsi kelenjar tiroid sangat bervariasi, mengatur fungsi berbagai organ tubuh. Hormon yang diproduksi tiroid berperan dalam mengatur metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak, mengatur pertumbuhan tulang, mengatur kontraksi jantung dan elastisitas pembuluh darah, dan mengatur penimbunan dan pengeluaran jaringan lemak. Hormon tiroid juga mengatur pengeluaran hormon pertumbuhan. Apabila terjadi disfungsi, multiperan hormon tiroid ini menyebabkan munculnya gejala dan tanda yang bermacam-macam.

Disfungsi kelenjar tiroid terbagi menjadi dua jenis, yakni kekurangan hormon tiroid (hipotiroid) dan kelebihan hormon tiroid (hipertiroid). Hipotiroidisme menandakan kelenjar tiroid yang hipoaktif. Penyebab paling sering adalah kekurangan asupan yodium, terutama di daerah dimana masyarakatnya jarang mengonsumsi yodium. Pada daerah dengan cukup yodium, penyebab paling sering adalah penyakit autoimun (keadaan dimana imunitas tubuh berbalik menyerang tubuh sendiri). Setiap tahun, rata-rata 4 dari 1000 wanita menderita hipotiroid akibat autoimun. Penyebab lainnya antara lain diambilnya kelenjar tiroid melalui operasi dan efek radioterapi (mis.pengobatan kanker). Gejala dan tanda penyakitnya antara lain mudah lelah, kulit menjadi mudah kering, mudah kedinginan, sulit buang air besar, denyut jantung menjadi lambat, dan peningkatan berat badan. Hipotiroidisme juga menyebabkan gejala depresi, antara lain mudah sedih dan malas beraktivitas sehari-hari. Gejala dan tanda hipotiroid tidak selalu muncul berbarengan, dan gejala yang muncul dapat bersifat ringan sehingga tidak dikeluhkan. Terkadang pasien hanya mengeluhkan lemah badan yang tidak kunjung membaik. Tatalaksana hipotiroid adalah dengan tablet pengganti hormon tiroid yang harus dikonsumsi setiap hari.

Kelainan hipertiroidisme dapat berasal dari hiperaktivitas kelenjar tiroid maupun akibat penyakit lain, misalkan tumor penghasil tiroid. Hipertiroidisme lebih banyak diderita oleh wanita. Pada suatu penelitian di Inggris, rasio wanita penderita hipertiroidisme adalah 0.8 dari 1000 wanita per tahun. Sebanyak 60-80% hipertiroidisme diakibatkan oleh Grave Disease, yaitu suatu kelainan genetik sehingga tubuh memproduksi antibodi yang menstimulasi kelenjar tiroid terus menerus. Gejala dan tanda penyakitnya antara lain jantung berdebar, mudah berkeringat, hiperaktif, peningkatan nafsu makan namun berat badan menurun, kedua tangan gemetar, diare. Pada grave disease juga dapat ditemukan bola mata yang terlihat makin menonjol. Sama seperti gejala hipotiroid, gejala dan tanda yang muncul tidak selalu lengkap dan berbarengan. Gejalanya juga dapat bersifat ringan sehingga sering terabaikan. Disfungsi tiroid juga tidak selalu disertai dengan pembengkakan kelenjar layaknya penderita gondok akibat kekurangan yodium. Pengobatan hipertiroid dapat menggunakan obat-obatan untuk menekan produksi hormon, operasi pengangkatan kelenjar, dan terapi radiasi.

Untuk menegakkan diagnosis gangguan tiroid, diperlukan data riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan kadar hormon tiroid. Gejala dan tanda yang tidak khas terkadang dapat mengaburkan diagnosis. Dalam konteks global, terdapat beberapa kasus dimana pasien-pasien gangguan tiroid tidak kunjung sembuh walau telah berobat ke beberapa dokter, hingga mereka menjalani tes hormon tiroid dan barulah ditemukan penyebabnya. Walaupun jarang terjadi, kasus ekstrem tersebut menekankan pentingnya proses skrining penyakit tiroid. Asosiasi tiroid Amerika Serikat merekomendasikan pemeriksaan kadar hormon tiroid pada pria dan wanita diatas umur 35 tahun, dan diulang setiap 5 tahun sekali.

Kesulitan dalam menegakkan diagnosis disfungsi tiroid dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Kualitas hidup pasien jelas terganggu, ditambah dengan waktu yang terbuang dan biaya yang (seharusnya) tidak perlu. Akan tetapi, walaupun diagnosis disfungsi tiroid terkadang sulit, apabila pengumpulan data riwayat penyakit dan pemeriksaan fisik dikerjakan dengan cermat, diagnosis tiroid dapat cepat diketahui. Diperlukan kerjasama yang baik antara pasien dan dokter, khususnya dalam membangun komunikasi efektif, agar fokus pengumpulan data penyakit dapat lebih terarah. Hubungan dokter-pasien yang baik adalah fondasi dari deteksi dan penanggulangan penyakit yang efektif.


Categories: Info Penyakit

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.