Perjalanan Panjang Penyakit HIV/AIDS 1981- 2015, Sudah Sampai Mana Kita Saat Ini?

Perjalanan Panjang Penyakit HIV/AIDS 1981- 2015, Sudah Sampai Mana Kita Saat Ini?

Penyakit HIV/AIDS mulai dikenali pada saat para dokter di Amerika merasa curiga dengan sejumlah kasus kematian yang misterius karena radang paru-paru (pneumonia) yang banyak terjadi di kalangan pria homoseksual.

(Baca selengkapnya: Perilaku Homoseksual Awal Mula Tersebarnya Penyakit HIV/AIDS di Dunia?)

Sejumlah studi intensif baik dari sisi mikrobiologi maupun sisi public health akhinya mengungkap penyakit satu ini. Hingga saat ini belum ada terapi yang dapat efektif menyembuhkan seseorang yang terkena HIV/AIDS. Tak heran, mendengar istilah HIV/AIDS bagi sebagian orang terdengar sebagai vonis mati.

Namun begitu, berbagai usaha terus diupayakan untuk menemukan terapi, sejumlah strategi diupayakan untuk mencegah menyebarnya infeksi. Tiga puluh empat tahun telah berlalu sejak awal dikenalnya penyakit ini, sudah sampai manakah perkembangannya?

Mari kita lihat perjalanannya di timeline berikut ini:

  • 1981 Para dokter dan peneliti meyakini adanya suatu virus menyebabkan kematian yang misterius
  • 1982 Istilah ‘acquired immunodeficiency syndrome’ atau AIDS pertama kali ditemukan untuk mendeskripsikan kematian mendadak karena pneumonia atau kanker.
  • 1983 Virus yang menyebabkan AIDS pertama kali ditemukan dan disebut sebagai human immunodeficiency virus atau HIV
  • 1985 Tes pertama untuk mendeteksi HIV disahkan oleh US FDA , tes ini mendeteksi antibodi virus HIV di dalam tubuh
  • 1987 Obat antiretroviral pertama ditemukan, yaitu azidothymidine or AZT, di izinkan penggunaanya oleh US FDA
  • 1995 Obat pertama yang ditujukan untuk mencegah virus menjadi       infeksius, yaitu protease inhibitor mulai digunakan
  • 1996 Laporan pertama yang menunjukkan bahwa kombinasi terapi antiretroviral efektif untuk menyelamatkan nyawa dirilis
  • 2000 UNAIDS mengusahakan dipasarkannya obat antiretroviral yang lebih murah umtuk di pasarkan di negara berkembang
  • 2005 Kematian akibat HIV mencuat ke angka 2.3 juta
  • 2006 Tahun dimana terapi kombinasi dengan ARV meulai menunjukkan angka kematian yang lebih rendah secara bermakna
  • 2008 Laporan mengenai pasien yang bisa sembuh dari HIV dirilis. The Berlin patient, atau       Timothy Ray Brown       mengalami pembersihan dari virus HIV setelah menerima sel transplan dari pasien yang secara alami resisten pada HIV.
  • 2012 Pemberian terapi pre-exposure prophylaxis (PrEP) atau profilaksis sebelum terpapar oleh virus disahkan oleh FDA
  • 2013 Laporan mengenai “penyembuhan fungsional” atau remisi dari infeksi virus HIV dilaporkan terjadi pada pasien yang dikenal sebagai “Missisipi baby”. Pasien ini lahir dengan HIV (+) dan kemudian langsung diberikan terapi dalam 30 jam pertama setelah kelahiran. Bayi tersebut dilaporkan negatif saat dites HIV, meskipun terapi ARV telah dihentikan.
  • 2013 Para peneliti akhirnya menemukan bagaimana HIV merusak sel imunitas yang memiliki reseptor CD4
  • 2014 Laporan bahwa baby Misisipi telah mengalami kekambuhan setelah 27 bulan tidak mendapatkan obat menyingkirkan harapan bahwa pemberian obat ARV di awal kehidupan seorang bayi merupakan suatu metode penyembuhan yang bisa dipercaya
  • 2014 Percobaan pertama dengan teknologi rekayasa genetik dilakukan pada responden dengan HIV. Sel imun 12 orang secara genetik diubah untuk memberikan resistensi pada infeksi HIV. Sayangnya, ternyata jumlah virus mengalami kenaikan apabila responden tersebut menghentikan menggunakan obat ARV. Diperlukan riset yang lebih dalam untuk kesuksesan metode ini.
  • 2015 Percobaan START (Strategic Timing of AntiRetroviral Treatment) mengkonfirmasi bahwa terapi pemberian ARV pada saat penderita HIV masih ‘sehat’ dan masih memiliki jumlah CD4 yang tinggi lebih efektif dalam memberikan remisi dan menurunkan angka kematian yang berhubungan dengan AIDS.


Categories: Info Penyakit

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.