Kenalkan Timothy Brown, Pasien Pertama yang Berhasil  Sembuh dari HIV

Terinfeksi dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) seringkali terdengar sebagai vonis “mati” bagi sebagian orang. Bagaimana tidak, penyakit ini adalah salah satu penyakit yang dianggap belum ada obatnya. Meskipun saat ini telah tersedia obat antiretroviral (ARV) yang mampu menekan virus di dalam tubuh hingga level yang tidak terdeteksi, namun belum ada obat yang  benar-benar dapat mengeliminasi virus HIV  di dalam tubuh.

(Baca juga: Apa Beda Antara HIV dan AIDS?)

Sejumlah penelitian terus dilakukan untuk menemukan penyembuhan bagi penyakit ini. Tidak tanggung-tanggung, Presiden Obama baru-baru ini mengalokasikan 100 juta USD demi kepentingan penelitian ini.  Saat ini fokus penelitian HIV/AIDS adalah  bagaimana menemukan terapi HIV/AIDS maupun pencegahannya dengan vaksin. Para peneliti tanpa lelah berusaha menemukan sedikit demi sedikit petunjuk menuju kesembuhan yang diidamkan banyak orang.

Kisah yang terjadi pada Timothy Ray Brown ini mungkin bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Brown yang sebelumnya dikenal dengan nama “The Berlin Patient” adalah pasien yang diketahui terkena HIV pada tahun 1995. Ia tertular HIV akibat perilaku menyimpang hubungan sesama jenis (homoseksual). Selama 11 tahun Brown hidup normal dan menjalani terapi dengan ARV. Brown, yang merupakan warga negara Amerika Serikat memilih hidup berpindah-pindah di beberapa kota di Eropa  dan akhirnya bekerja di Berlin, Jerman.

Malang, di usianya yang ke-40 Brown diketahui terkena penyakit keganasan Acute Myeloid Leucemia (AML). Jenis keganasan ini akan menganggu pematangan leukosit yang bertugas untuk mengatasi serangan infeksi. Tanpa terapi segera, hidup Brown semakin dalam ancaman.

Dokter ahli kanker yang merawat Brown saat itu, Gero Hϋtter menawarkan Brown untuk mendapatkan transplantasi sumsum tulang pasien yang memiliki mutasi delta-32 section pada gen CCR5 . Dr. Hutter sebelumnya terkesan dengan sebuah paper ilmiah yang menjelaskan bahwa orang dengan mutasi memiliki resistensi atau semacam perlindungan alamiah pada infeksi HIV.  Gen tersebut merupakan gen yang  mengkode reseptor permukaan sel darah putih tempat virus biasa HIV menempel. Mutasi pada gen tersebut membuat virus HIV tidak bisa masuk kedalam sel darah putih sehingga proses perjalanan penyakit HIV/AIDS tidak terjadi.

Right patient in the right place adalah ungkapan yang tepat bagi Brown. Setidaknya ada banyak kebetulan yang menjadikan kesembuhan Brown bagaikan mukjizat yang telah diatur oleh Yang Maha Kuasa:

  1. Mutasi gen CCR5 banyak ditemukan di Eropa Utara, dekat dengan tempat Brown menjalani pengobatan saat itu, yaitu di Berlin.
  2. Kendati berkewarganegaraan Amerika, pada saat sakit Brown dirawat Jerman, negara yang memiliki registri donor sumsum tulang yang terorganisir.
  3. Ditemukan banyak (200 orang) donor sumsum tulang yang cocok, dan donor ke 61 memiliki mutasi yang diwariskan oleh dua orangtuanya. Donor ini lah yang akhirnya memberikan sumsum tulangnya untuk Brown.
  4. dr. Gero Hutter yang merawat Brown terpikirkan melakukan terapi tersebut karena ia teringat sebuah paper ilmiah yang ia baca 10 tahun sebelumnya, pada saat ia masih menjadi mahasiswa kedokteran.

Pada saat mulai menerima transplantasi, Brown menghentikan konsumsi obat ARV- nya. Setelah melalui fase penyembuhan pasca transplantasi yang berat, Brown mulai menyadari ada perubahan pada tubuhnya. Ia merasa lebih sehat, dan mudah untuk mengumpulkan massa otot. Kehilangan massa otot merupakan hal yang sering ditemui pada pasien HIV karena efek samping obat ARV. Pada saat melakukan evaluasi, dokter tidak menemukan adanya virus HIV pada darah Brown lagi. Hingga saat ini Brown tidak lagi mengkonsumsi obat ARV dan para ahli menganggap Brown telah sembuh dari HIV. Kesembuhan ini dianggap kesembuhan karena  proses “sterilisasi” dan bukan semata kesembuhan “fungsional” (level virus tidak terdeteksi) sebagaimana yang dialami oleh peminum obat ARV.

Para peneliti sepakat bahwa peristiwa ini merupakan peristiwa monumental dalam sejarah pencarian obat untuk HIV. Kesembuhan yang dialami oleh Brown telah mematahkan anggapan bahwa HIV tidak bisa disembuhkan. Saat ini para peneliti yang bergabung dalam organisasi American Foundation for AIDS Research (AmFAR) percaya bahwa pada tahun 2020 penyembuhan terhadap HIV akan segera tersedia.

Mari kita doakan bersama yuk, semoga tidak lama lagi penyembuhan bagi penderita HIV/AIDS segera tersedia!


Categories: Info Penyakit

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.