Resistensi Bakteri Penyebab Penyakit Tipus Menyebar di Seluruh Dunia, Upaya Pencegahan Harus Jadi Pilihan Utama

Resistensi Bakteri Penyebab Penyakit Tipus Menyebar di Seluruh Dunia, Upaya Pencegahan Harus Jadi Pilihan Utama

Apakah anda pernah menderita penyakit demam tifoid? Demam tifoid akrab juga disebut tifus atau tipes oleh masyarakat. Jika bukan anda yang terkena penyakit ini, mungkin bisa jadi tetangga, atau teman sekolah anda ada yang pernah mengalaminya. Penyakit ini demikian populer di Indonesia, sehingga jika ada yang sedang menderita demam, kecurigaan terhadap infeksi penyakit ini tidak bisa diabaikan.

Demam tifoid atau penyakit timerupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Gejala penyakit ini meliputi demam, gangguan pencernaan serta gangguan kesadaran yang salah satunya ditunjukkan dengan mengigau. Gejala pencernaan yang muncul dapat berupa mual, muntah, diare, sulit BAB, nyeri perut dan tidak nafsu makan. Setiap tahunnya diperkirakan ada 30 juta orang yang terinfeksi penyakit ini di seluruh dunia.

Angka kematian akibat demam tifoid sudah menurun tajam sejak penyakit ini pertama kali teridentifikasi. Penurunan ini disebabkan oleh semakin baiknya penanganan medis dan ditemukannya antibiotik yang mampu membunuh bakteri ini. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, keampuhan antibiotik untuk membunuh bakteri ini semakin menurun. Semakin banyak dilaporkan penemuan bakteri yang resisten dengan antibiotik yang tersedia.

Kasus resistensi yang pertama kali ditemukan adalah kasus resistensi terhadap antibiotik chloramphenicol pada tahun 1970-an. Sejak itu, obat pilihan utama adalah trimetophim+sulfametoxazol dan ampisilin. Sayangnya, tidak lama kemudian (1980-an) ditemukan bakteri yang resisten kepada 3 jenis antibiotik tersebut, atau dikenal dengan istilah multidrug resistent (MDR) S. Typhi. Pilihan antibiotik kemudian bergeser pada golongan floroquinolon, yang sayangnya sejak tahun 2000-an juga mulai ditandingi oleh bakteri yang resisten.

Baru-baru ini, berdasarkan jurnal yang dipublikasikan di Nature Genetics 2015, dilaporkan bahwa bakter S. Typhi yang resisten sudah kian menyebar. Laporan yang diberikan 74 peneliti yang tersebar di 20 negara diseluruh dunia menunjukkan bakteri S.Typhi jenis H58 pelan-pelan mulai menggantikan jenis S. Typhi biasa. H58 Typhi merupakan jenis bakteri yang resisten terhadap antibiotik lini pertama dan terus mengalami mutasi yang menyebabkan resistensi terhadap jenis antibiotik baru seperti ciprofloxacin dan azithromycin.

Padahal, penyakit demam tifoid yang gagal diobati dapat menimbulkan komplikasi yang mengancam nyawa seperti kebocoran usus dan meningitis. Komplikasi dapat terjadi pada 20% pasien demam tifoid.

Kemampuan kita untuk mengobati terus berpacu dengan kepinataran bakteri yang melakukan mutasi. Hal ini menunjukkan semakin pentingnya upaya pencegahan terhadap infeksi demam tifoid. Tiifoid menyebar melalui jalur fecal-oral. Bakteri ini keluar lewat feses orang yang terinfeksi dan menyebar melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh bakteri ini. Langkah-langkah ini bisa kita lakukan untuk mencegah penularan:

1. vaksinasi

2. menjaga kebersihan selalu memasak air hingga mendidih dan memasak telur dan daging hingga matang

3. hindari jajan sembarangan

4. JIka anda membeli es di luar rumah, pastikan menggunakan es yang di buat dari air matang

5. selalu mencuci tangan setelah dari kamar mandi dan sebelum makan

Jika anda atau orang terkasih saat ini sedang mengalami infeksi demam tifoid, habiskanlah antibiotik yang diberikan dokter sesuai resep. Pengobatan antibiotik untuk demam tifoid terkadang membutuhkan waktu selama 7-14 hari, tergantung jenis antibiotik yang digunakan dan tingkat keparahan gejala yang ditemui pada pasien. Jangan hentikan konsumsi obat walaupun dalam 2-3 hari setelah mengkonsumsi obat anda telah merasa baikan. Walaupun gejala penyakit sudah menghilang, bakteri salmonella masih mungkin tetap berdiam dalam tubuh anda. Pemeriksaan dengan kultur tinja dapat dilakukan untuk memastikan apakah demam tifoid masih ada atau tidak di dalam tubuh. Jika anda baru saja terinfeksi bakteri ini, sebaiknya hindari memasak atau menyiapkan makanan untuk orang lain terlebih dahulu. Sementara kebiasaan untuk mencuci tangan dengan sabun setelah dari kamar mandi merupakan kebiasaan yang harus dikerjakan terus menerus. Jangan lupa cuci tangan ya!


Categories: Penyakit Infeksi

Comments

comments