4 Mitos Tentang Keguguran yang Perlu Diluruskan

4 Mitos Tentang Keguguran yang Perlu Diluruskan

Keguguran merupakan peristiwa yang tidak diinginkan oleh setiap pasangan suami istri.  Seringkali  kejadian ini menyebabkan seorang wanita merasa sedih dan menyalahkan dirinya sendiri. Keguguran sering diidentikkan dengan kegagalan seorang wanita menjaga kehamilannya. Namun benarkah seperti itu?  Berikut ini adalah daftar mitos seputar keguguran yang perlu di luruskan:

 

Mitos #1: Keguguran Terjadi Karena Kesalahan Ibu

Sekitar 60- 70% dari keguguran terjadi karena adanya abnormalitas kromosom. Hal ini berarti proses penggabungan antara kromosom yang dibawa oleh sel telur dan sperma tidak berlangsung dengan baik dan sedari awal kehamilan memang ditakdirkan untuk tidak berlanjut.

Keguguran tidak disebabkan oleh mengangkat sesuatu, berhubungan seksual, mengkonsumsi makanan yang tidak tepat, lupa mengkonsumsi vitamin, berolahraga atau stress. Hal tersebut tidak dapat bertemu dokter lebih awal atau mengkonsumsi pil tertentu.

Seorang wanita yang mengalami keguguran biasanya akan berusaha mencari tahu mengapa keguguran terjadi dan membuat asumsi berlebihan dan merasa bahwa kesalahan dirinya.

Mitos #2 : Keguguran Merupakan Hal yang Jarang Terjadi

Kebanyakan ornag merasa bahwa keguguran merupakan hal yang jarang terjadi. Padahal sekitar 15%- 20% dari kehamilan akan berakhir dengan keguguran.

Dengan persentase ini artinya satu dari lima wanita akan mengalami keguguran, atau dengan kata lain jika seorang wanita hamil sebanyak lima kali, ia mungkin mengalami keguguran sebanyak satu kali.

Kebanyakan keguguran terjadi pada minggu pertama.  Angka ini bisa lebih besar jika kita juga menghitung  keguguran yang terjadi sebelum ibu mengetahui dirinya hamil.

 

Mitos #3: Keguguran akan berulang

Diperkirakan angka kejadian keguguran adalah 15% untuk wanita yang sehat dibawah usia 35 tahun. Pernah mengalami keguguran sebelum usia 12 minggu tidak meningkatkan risiko mengalami keguguran pada kehamilan berikutnya.

Dengan bertambahnya usia kehamilan, risiko untuk mengalami keguguran akan menurun dan pada banyak kasus, dapat turun hingga kurang dari 5% apabila detak jantung sudah dapat dideteksi dan hanya sebesar 5% apabila usia kehamilan lebih besar dari 12 minggu.

Mengalami keguguran secara berurutan atau memilki riwayat keguguran sebanyak 3 kali merupakan indikasi kemungkinan keguguran yang berulang. Pada kasus seperti ini, dibutuhkan tes lebih lanjut untuk memastikan alasan keguguran yang berulang. Pun begitu, kebanyakan ibu yang pernah mengalami keguguran berulang pada akhirnya bisa melahirkan bayi yang sehat.

Mitos #4 : Semua perdarahan berarti keguguran

Menemukan bercak kemerahan pada celana dalam mungkin akan menyebabkan seorang ibu hamil menjadi panik. Perdarahan yang tidak berkaitan dengan nyeri bisa saja berasal dari jaringan serviks atau jaringan vagina. Hingga 12% dari wanita yang mengalami perdarahan pada trisemester pertama dapat melanjutkan kehamilannya hingga melahirkan anak yang sehat. Jika ibu menemukan perdarahan, berkonsultasilah dengan dokter, namun jangan langsung berpikir negatif terlebih dahulu mengira bahwa sedang mengalami keguguran.


Categories: Hamil & Menyusui
Tags: hamil, keguguran

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.