Mempelajari Sebab Kematian Ibu Kartini

Mempelajari Sebab Kematian Ibu Kartini

Setiap tanggal 21 April kita merayakan Hari Kartini. Perayaan ini tidak hanya mengingatkan kita akan semangat emansipasi wanita yang didengungkan oleh Kartini. Namun, peringatan ini membuat kita juga perlu merenungi bagaimana akhir hidup dari Kartini.

Kartini mungkin memang ditakdirkan menjadi feminis sejati. Masa mudanya ia habiskan untuk mengobarkan semangat emansipasi pada wanita. Lalu di akhir hayatnya, ia temui ajal saat menjalankan kodratnya sebagai wanita. Kartini meninggal empat hari setelah melahirkan putra pertamanya, R. Soesalit. Hal ini terjadi pada 14 September 1904, pada saat Kartini baru berusia 25 tahun.

Jarak kematian Kartini yang terjadi hanya 4 hari setelah melahirkan diduga terkait dengan komplikasi persalinan. Hal ini sesuai dengan definisi kematian maternal WHO, yaitu “Matinya seorang ibu yang sedang hamil atau melahirkan, atau dalam 42 hari setelah persalinan, disebabkan karena penyebab yang ada kaitannya atau yang diperberat oleh kehamilan atau pengelolaannya, tetapi bukan karena kecelakaan atau bencana.”

Hingga saat ini sebab kematian Kartini masih belum dapat dipastikan. Literatur yang tersedia tidak menjelaskan secara gamblang bagaiman kondisi Kartini sesaat setelah melahirkan.  Namun dari dulu hingga sekarang, sebab kematian ibu melahirkan paling banyak diakibatkan oleh tiga sebab utama, yaitu: perdarahan, preeklampsi-eklampsia, dan infeksi.

Kini, sudah lewat seabad dari sejak kematian Kartini, namun masalah kematian ibu masih menjadi PR bersama kita. Menariknya, 90% dari sebab kematian pada ibu hamil dan melahirkan sebenarnya bisa dicegah. Usaha serius untuk menurukan angka kematian ibu perlu dilakukan pada semua lini kehidupan.

Pemerintah menyiapkan regulasi dan penyediaan layanan kesehatan.  Tenaga kesehatan dilatih agar terampil melakukan pertolongan darurat. Yang terakhir, masyarakat diharapkan mau untuk mengedukasi dirinya untuk melakukan langkah pencegahan serta pengenalan tanda bahaya.

Nah, kira-kira apakah anda sudah mengenal apa saja sebab kematian ibu melahirkan? Bagaimana langkah-langkah pencegahannya? Dan terakhir, bagaimana ya pengenalan tanda bahayanya?

Yuk, kita cermati hal tersebut!

Perdarahan

Perdarahan pasca persalinan dapat disebabkan oleh  robeknya rahim (ruptur uteri), kegagalan rahim untuk berkontraksi dan menghentikan perdarahan (atonia uteri) atau adanya jaringan plasenta yang tertinggal di dalam rahim (retensio plasenta).

Pencegahan

Seorang ibu hamil diharapakn untuk mengecek kadar hemoglobin (Hb) sebalum melahirkan. Kadar Hb yang rendah akan memperbesar risiko fatal akibat perdarahan. Jika ditemukan Hb yang rendah dokter atau bidan akan mengantisipasi dengan memberikan suplemen besi. Selain itu, sebagai langkah antisipasi, seorang ibu diharapkan mengetahui golongan darahnya dan menyiapkan calon pendonor apabila perdarahan sampai terjadi.

Untuk mencegah adanya kegagalan rahim berkontraksi, seorang ibu diharapkan memilki gizi yang cukup, dan menjarangkan jarak antar kehamilan serta membatasi jumlah anak.

Terakhir, untuk jaringan plasenta yang tertinggal, bisa ditangani apabila ibu dapat terhubung dengan layanan kesehatan yang dapat menyediakan bantuan terhadap kondisi ini.

Preeklampsi/ Eklampsi

Dalam istilah awam hal ini dikenal juga dengan istilah keracunan dalam kehamilan. Hal ini bisa terjadi sebelum kehamilan, saat persalinan dan setelah persalinan.

Preeklampsi di tandai dengan adanya peningkatan tekanan darah, bengkak pada seluruh tubuh (lengan, muka, perut), dan adanya protein di dalam urin. Pada kondisi preeklampsi berat akan didapatkan gejala tambahan seperti nyeri kepala berat, penurunan kesadaran, pandangan kabur, sesak nafas, dan didapatkan hasil pemeriksaan lab yang abnormal (kadar kreatinin, trombosit, fungsi hati).

Jika sudah menimbulkan kejang dan ibu tidak sadar atau bahkan koma, dokter akan mendiagnosis kondisi ini sebagai eklampsia. Kondisi ini termasuk dalam kegawatdaruratan obstetri dan dapat mengancam nyawa ibu dan bayi.

Pencegahan

Preeklampsi dan eklampsia dapat dicegah dengan melakukan kontrol teratur selama kehamilan. Dokter atau bidan akan memonitor bagaimana tekanan darah ibu, dan apakah ditemukan tanda-tanda preeklampsi yang telah disebutkan diatas.

Ibu hamil diharapkan juga untuk mengkonsumsi makanan yang baik dan kaya akan antioksidan (sayuran hijau dan buah), menambahnya dengan suplemen yang mengandung vitamin dan magnesium, menghindari stress, mengurangi konsumsi garam dan meminum air yang cukup.

Dalam sebuah penelitian juga ditemukan bahwa ibu yang mengkonsumsi probiotik memiliki risiko yang lebih rendah mengalami preeklampsia.

Jika ditemukan tanda dan gejala yang mengarahkan terjadinya preeklampsia berat, segeralah datang ke rumah sakit terdekat untuk memperoleh pertolongan. Salah satunya dokter akan menginfuskan MgSO4 yang dapat mencegah preeklampsia berat menjadi eklampsia.  Untuk sehari-hari dokter juga akan memberikan obat penurun tensi yang aman di minum untuk ibu hamil.

Preeklampsi yang terjadi selama persalinan dan setelah persalinan dapat diatas dengan cepat jika ibu di tangani oleh tenaga kesehatan yang terampil serta layanan kesehatan yang memadai. Pilihlah tempat bersalin yang mampu mengatasi keadaan darurat seperti ini.

Infeksi

Kejadian infeksi pada ibu melahirkan dapat disebabkan oleh alat yang tidak steril. Infeksi pasca persalinan ditandai dengan kenaikan suhu lebih dari 380 C. Ibu dapat jatuh pada kondisi sepsis, dimana proses infeksi menyebabkan kegagalan sirkulasi darah yang menyebabkan ibu mengalami perburukan dan kegagalan berbagai fungsi organ.

Pencegahan

Pemerintah telah mewajibkan imunisasi TT (tetanus toxoid) bagi seorang wanita yang akan menikah. Langkah ini merupakan salah satu pencegahan terhadap terjadinya infeksi tetanus yang mungkin terjadi akibat alat kesehatan yang tidak steril.

Secara umum, semua tindakan pertolongan dalam persalinan harus memenuhi standar steril dan aman. Jika tidak, luka yang dialami selama proses kelahiran dapat menjadi tempat masuk bagi masuknya kuman penyebab infeksi. Yakinkan diri anda bahwa anda telah memilih tempat persalinan yang menyediakan pelayanan yang steril dan aman.

Selain yang sudah disebutkan diatas, ada beberapa faktor risiko yang sebaiknya kita perhatikan seksama, antara lain:

  • Usia ibu hamil < 20 tahun atau > 35 tahun
  • Jarak kehamilan yang terlalu dekat (dibutuhkan setidaknya 2-3 tahun agar ibu siap bersalin kembali)
  • Pendidikan ibu yang rendah
  • Kondisi geografi dan transportasi yang kurang memadai
  • Kondisi sosial, ekonomi dan budaya yang menghambat pemberian pertolongan persalinan
  • Gizi kurang pada ibu hamil

Dewasa ini dimana kita telah hidup dengan fasilitas kesehatan yang lebih baik, diharapkan kondisi-kondisi tersebut dapat diantisipasi. Usaha pemerintah merupakan tindakan awal yang harus kita dukung terus. Diharapkan dengan peran aktif pada semua lini, tidak perlu lagi ada Kartini-Kartini yang harus meninggal di usia muda karena komplikasi persalinan.


Comments

comments