Osteoporosis Berbeda dengan Osteoarthritis

Osteoporosis Berbeda dengan Osteoarthritis

Istilah Osteoporosis seringkali rancu dengan istilah osteoarthitis. Keduanya memang terdengar mirip sehingga sering tertukar. Osteoporosis  adalah kondisi  perubahan mikroarsitektur jaringan tulang dimana terjadi pengurangan massa tulang dan gangguan struktur tulang sehingga menyebabkan tulang menjadi mudah patah. Secara mudah kita bisa membayangkan tulang yang sebelumnya kuat menjadi berporos, dan menjadi keropos.

tulang berporos

Sementara osteoarthitis adalah kondisi peradangan pada sendi yang terjadi akibat gesekan antara dua tulang. Gesekan dapat terjadi karena berkurangnya cairan pelumas (cairan sinovial), penggunaan yang terlalu sering, maupun karena efek beban tubuh yang terlalu berat, misalnya pada kasus obesitas.

osteoartritis ilustrasi

Bersesuaian dengan Hari Osteoporosis Sedunia di bulan Oktober ini, kita akan membedah informasi seputar osteoporosis. Mengapa osteoporosis bisa terjadi? Langkaha apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya?

fakta penting osteoporosis

Osteoporosis dibagi menjadi 2 tipe , primer dan sekunder. Tipe primer dibagi menjadi 2 yaitu postmenopausal (tipe 1) dan senile (tipe 2). Penyebab terjadinya osteoporosis tipe 1 erat kaitannya dengan hormone estrogen dan kejadian menopause pada wanita. Dan tipe 2 biasanya terjadi pada usia diatas 70 tahun dan 2 kali lebih sering menyerang wanita. Tipe osteoporosis sekunder terjadi karena adanya gangguan kelainan hormon, penggunaan obat-obatan dan gaya hidup yang kurang baik seperti konsumsi alcohol yang berlebihan dan merokok.

Pada awalnya osteoporosis tidak menimbulkan gejala, bahkan sampai puluhan tahun tanpa keluhan. Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga tulang menjadi kolaps atau hancur, akan timbul nyeri dan perubahan bentuk tulang. Jadi seseorang dengan osteoporosis biasanya akan memberikan keluhan atau gejala tinggi badan berkurang, bungkuk, bentuk tubuh berubah, patah tulang,  dan nyeri (karena patah tulang).

Deteksi Dini

Karena seringkali terlambat pada saat diketahui, deteksi dini merupakan hal yang dianjurkan.  Sejumlah teknik dapat digunakan untuk mengukur kepadatan mineral tulang, misalnya saja:

·         DEXA (Dual energy X-ray absorptiometry)

·         P-DEXA (Periphral dual energy X-ray absorptiometry)

·         DPA (dual photon absorptiometry)

·         Ultrasounds

·         Quantitative computed tomography (QTC)

Penanganan

Osteoporosis bersifat multifaktorial sehingga penanganannya pun sangat komplek. Terapi untuk osteoporosis difokuskan tidak hanya untuk menghambat resorpsi tulang atau merangsang pembentukan tulang. Tidak kalah penting untuk mengurangi risiko terjatuh. Beberapa RCT dilaksanakan lebih dari 10 tahun telah membantu mengarahkan terapi farmakologi, yang juga meliputi intervensi non-farmakologi yang sebaiknya direkomendasikan pada semua pasien.

Penghambat resorpsi tulang meliputi estrogen, kalsitonin, bisphosphonate dan kalsium. Estrogen memperlambat bone loss pada menopause. Estrogen juga meningkatkan massa tulang pada wanita dengan osteoporosis dan mungkin efektif digunakan pada wanita usia 65 – 70 tahun. Namun harus mempertimbangkan efek sampingnya. Sementara HRT lebih disarankan.Osteoporosis sekunder sebaiknya jika memungkinkan diterapi sesuai dengan penyebabnya.

Pencegahan

Osteoporosis dapat dicegah kekambuhannya dengan:

  • Asupan kalsium 1500 mg/hari dan vitamin D 800 IU/hari
  • Aktifitas fisik ≥30 menit minimal 3 kali dalam seminggu
  • Menghindari merokok dan konsumsi alkohol


Categories: Tulang dan Sendi

Comments

comments

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*

Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.