7 Tes Skrining Kanker yang Wajib Diketahui Wanita

7 Tes Skrining Kanker yang Wajib Diketahui Wanita

Kanker merupakan penyebab kematian paling banyak kedua pada wanita Amerika setelah penyakit jantung.  Dari seluruh wanita yang mengalami kanker tersebut, hanya 15% memiliki kesadaran untuk menjalani tes deteksi dini  kanker. Pemeriksaan deteksi dini  dapat dimulai dari hal yang sederhana seperti pemeriksaan payudara sendiri di rumah hingga pemeriksaan canggih seperti identifikasi gen BRCA1 dan BRCA2. Dengan deteksi dini, kita dapat mengatasi kanker sejak awal dan mencegah komplikasi yang mungkin terjadi.

1. SADARI (PerikSA PayuDAra SendiRI)

SADARI merupakan pemeriksaan sederhana  dimana perempuan melakukan pemeriksaan sendiri  dengan cara meraba bagian –bagian payudaranya. Sebaiknya pemeriksaan ini dilakukan pada waktu yang sama pada siklus menstruasi. Waktu terbaik pemeriksaaan adalah hari ke 7-10 menstruasi (hari-hari terakhir siklus mens) dimana pengaruh hormon sudah tidak terlalu besar lagi.

Pemeriksaan sebaiknya dilakukan minimal pada dua posisi, yaitu saat berdiri dan tidur terlentang. Posisi berdiri dapat dilakukan sembari mandi. Langkah-langkah SADARI selengkapnya dapat dibaca disini.

John Hopskin Hospital menyebutkan bahwa hampir 40%  kanker payudara ditemukan pada wanita yang menemukan benjolan pada payudaranya. Benjolan dan gambaran abnormalitas pada payudara merupakan petunjuk tersering  yang membawa pasien berkonsultasi pada dokter.

2. Mammografi

Pemeriksaan mammografi adalah pemeriksaan dengan sinar rontgen untuk mendeteksi tumor payudara.  Pemeriksaan ini dianjurkan bagi wanita yang sudah berusia 40 tahun, namun tidak menutup kemungkinan dilakukan bagi wanita yang lebih muda, jika ditemukan faktor risiko. Mammografi dapat mendeteksi kanker lebih awal dimana  terapi akan menjadi akan lebih efektif. Angka ketahan hidup selama lima tahun (five years survival rate) penderita kankerr payudara di Amerika Serikat mengalami kenaikan dari 75%  ke 90% sejak tahun 1975 dan para ahli memperkirakan bahwa program deteksi dini ikut berperan dalam kenaikan survival rate ini.

3. Pemeriksaan Mutasi Gen BRCA

Gen BRCA 1 dan BRCA2 adalah gen yang memiliki fungsi untuk mensupresi atau menekan pertumbuhan tumor. Mutasi pada salah satu atau kedua gen tersebut dapat meningkatkan terjadinya kanker payudara hingga 50%. Wanita yang mewarisi mutasi pada BRCA1 memiliki riisko terkena kanker payudara sekitar 55-65% dan wanita yang mengalami mutasi BRCA2 memiliki kemungkinan tekena kanker payudara sebelum usia 70 tahun sebesar 45%.

Deteksi dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan sampel darah atau air ludah. Pemeriksaan ini dianjurkan bagi wanita yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara, kanker ovarium, dan kanker  peritoneum.  Apabila ditemukan hasil yang positif, seorang wanita dapat melakukan tindakan pencegahan, termasuk salah satunya dengan mastektomi (pengangkatan payudaa). Hal fenomenal berupa pengangkatan payudara  ini pernah dilakukan oleh Jessica Queller, baca kisahnya disini.

4. Pap Smear Untuk Kanker Leher Rahim

Pemeriksaan pap smear dilakukan dengan cara mengambil apusan dari leher rahim seorang wanita untuk mendeteksi apakah ditemukan sel yang menunjukkan perubahan ke arah keganasan. Seorang ahli patologi akan membaca apusan sel tersebut dan  akan menklasifikasikan sel menjadi normal, perbatasan, dan abnormal. Hasil pemeriksaan ini akan menentukan interval pemeriksaan  ulangan berikutnya. Apabila diindikasikan, dokter juga mungkin menyarankan pemeriksaan yang lebih teliti, salah satunya dengan kolposkopi. Pap smear di sarankan dikerjakan setiap 3 tahun pada wanita 21-65 tahun. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mendeteksi kanker leher rahim sebelum ditemukan gejala lain seperti perdarahan, keputihan yang berbau dan berwarna seperti cucian daging, dan nyeri saat berhubungan.

5. Tes DNA HPV

Pemeriksaan ini dilakukan mirip dengan pemeriksaan pap smear. Hanya saja pada sel yang diperiksa, dideteksi juga apakah ditemukan adanya DNA virus HPV 16 dan HPV 18 yang merupakan penyebab tersering kanker leher rahim. Tes DNA HPV tidak dianjurkan dilakukan oleh wanita yang berusia kurang dari 30 tahun.  Menurut National Cancer Institute Amerika Serikat, pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan yang paling akurat untuk mendeteksi adanya kanker leher rahim pada seorang wanita.  Sayangnya pemeriksaan ini sering menunjukkan hasil positif palsu, karena memungkinkan seorang wanita pernah terpapar DNA HPV namun tidak mengalami kanker.

6. Deteksi Kanker Rahim dan Endometrium

Pemeriksaan perlu dilakukan apabila ditemukan gejala abnormal seperti perdarahan dari jalan lahir, keluar darah lagi setelah menepouse, nyeri panggul pada saat berhubungan seks atau saat kencing. Pemeriksaan dalam pada organ kewanitaan akan dilakukan oleh dokter. Apabila ditemukan kecurigaan kearah kanker,  dokter akan melakukan pemeriksaan  ultrasound atau pengambilan contoh jaringan.

7. Deteksi Dini Kanker Ovarium

Kanker ovarium atau kanker indung telur memilki nama lain silent lady killer. Hal ini karena awal terjadinya kanker ini sangat jarang diketahui, hingga tiba-tiba sudah menyebar dan menyebabkan kematian.  Pemeriksaan rutin untuk kanker ovarium tidaklah dianjurkan  karena  efektivitasnya yang diragukan. Namun, tidak ada salahnya anda memasukkan pemeriksaan ini pada saat melakukan check up.  Pemeriksaan dapat dilakukan pada wanita yang memiliki gejala kanker, riwayat keluarga dengan kanker ovarium, atau ditemukannya mutasi gen BRCA.

Tes deteksi dini disarankan apabila ditemukan gejala pertumbuhan massa di dalam perut seperti kembung yang terus menerus sepanjang hari, keinginan buang air kecil yang sulit ditahan, atau adanya keluhan nyeri panggul yang dirasakan pada saat berhubungan atau berkemih.


Comments

comments